Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Rabu, 18 September 2019, 02:59 WIB

Foto di bawah ini adalah Jalan Langensari

 

Jalan yang terletak di Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Jogja. Jalan di mana SD Langensari pernah berdiri dan kemudian “digusur” menjadi Embung Langensari.

 

pohon tua yang tumbuh di pinggir jalan langensari gondokusuman

suasana sepanjang jalan langensari gondokusuman yogyakarta pada zaman dahulu

 

Mirip seperti kawasan Kotabaru, pemandangan unik di Jalan Langensari adalah rumah-rumah tua yang dibangun pada era kolonial. Rumah-rumah tua itu hingga kini masih memancarkan kesan antik. Beruntunglah masih ada yang menghuni dan merawat.

 

Dahulu kala, rumah-rumah tua di kawasan Jalan Langensari adalah rumah dinas para pegawai bengkel kereta api Centrale Werkplaats. Seiring dengan kemerdekaan Indonesia, bengkel tersebut dinasionalisasi menjadi Balai Yasa (Pengok) Yogyakarta. Karena itulah beberapa rumah-rumah tua memajang logo PT Kereta Api Indonesia.

 

Sisi Utara Jalan Langensari

Jalan Langensari adalah jalan satu arah yang membentang dari barat ke timur. Kawasan ini pun seakan terbagi ke dalam dua sisi, utara dan selatan.

 

Sisi selatan Jalan Langensari dipadati rumah-rumah tua era kolonial. Sedangkan sisi utara  dipadati bangunan-bangunan yang lebih modern. Pemandangan yang kontras ini menimbulkan suatu "kejanggalan" yang menarik untuk dikulik.

 

Nah, petunjuk untuk mengulik “kejanggalan” tersebut bisa dimulai dari jalan kecil yang bermuara di Jalan Langensari. Jalan itu adalah Jalan Balapan.

 

sejarah jalan balapan klitren gondokusuman kota yogyakarta

 

Sepintas, tidak ada yang janggal dari Jalan Balapan. Jalan kecil ini membentang di samping kompleks GOR AA YKPN.

 

Rumah-rumah di sepanjang Jalan Balapan banyak difungsikan sebagai kos-kosan. Maklum, di kawasan ini berdiri banyak kampus.

 

Akan tetapi, apabila “dirasakan” Jalan Balapan ini agak berbeda dengan umumnya jalan di Kota Jogja yang berkonsep tegak lurus. Jalan Balapan terasa menikung hingga ke ujungnya yang tembus ke Jalan Urip Sumoharjo

 

suasana di sepanjang jalan balapan klitren gondokusuman kota yogyakarta

pemukiman di sepanjang jalan balapan klitren gondokusuman kota yogyakarta

cabang jalan balapan dan jalan urip sumoharjo di kota yogyakarta

 

Mungkin banyak orang yang belum tahu kenapa Jalan Balapan menikung. Sebagaimana dengan kemungkinan akan banyaknya orang yang belum tahu jika Jalan Balapan pada dahulu kala adalah lintasan pacuan kuda.

 

Masuk akal kan kenapa dinamai Jalan Balapan? Tidak jauh beda dengan nama Stasiun Balapan di Kota Solo. Keduanya, sama-sama bekas arena pacuan kuda.

 

Kuda yang Memasyarakat

Sejarah mencatat, berkuda bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Jauh sebelum kendaraan bermotor merajalela, kuda sangat diandalkan untuk mengantarkan orang-orang bepergian dengan cepat. Entah itu ditunggangi atau sebagai penarik kereta. 

 

Selain sebagai moda transportasi, kuda adalah hewan penguji ketangkasan. Banyak wilayah di Indonesia memiliki tradisi atraksi berkuda. Karenanya, tidak heran bila dahulu kala seluruh lapisan masyarakat Indonesia akrab dengan kuda. 

 

pacuan kuda di jawa tengah

 

Serupa dengan Indonesia, penduduk Eropa pun menggandrungi berkuda, termasuk orang-orang Belanda. Alhasil, didukung kegemaran yang sama, arena pacuan kuda pun bertebaran di Indonesia pada era kolonial.   

 

  • Di Jakarta ada Koningsplein
  • Di Bandung ada Tegallega.
  • Di Surabaya ada Sawahan
  • Di Malang ada Betek.
  • Di Salatiga ada Ngebul.

 

Akan tetapi, seiring dengan berlalunya waktu, pacuan kuda menjadi hal yang kurang diminati masyarakat Indonesia. Arena pacuan kuda pun beralih fungsi. 

 

Well, ada tanah luas nganggur, kenapa tidak dimanfaatkan?

 

Pacuan Kuda di Jogja pada Masa Lalu

Balik lagi ke Langensari.

 

Pada cuplikan peta Kota Jogja tahun 1920 di bawah ini, tampak arena pacuan kuda Langensari sudah eksis. Di peta tertulis Race-terrein yang dapat dengan mudah diartikan sebagai lapangan lomba.

 

Lomba apa lagi kalau bukan pacuan kuda?

 

peta wilayah lempuyangan yogyakarta pada tahun 1920

 

 

Oh iya, selain keberadaan Race-terrein, ada sejumlah hal menarik lain yang bisa diperhatikan dari peta jadul 1920 di atas.

 

  1. Stasiun Yogyakarta dan Stasiun Lempuyangan sudah eksis.
  2. Jembatan kereta api di atas Kali Code yang menghubungkan dua stasiun itu sudah eksis.
  3. Tapi, jembatan umum di atas Kali Code (yang disebut Jembatan Kewek) itu belum ada.
  4. Kawasan perumahan di Kotabaru belum ada, tapi RS Bethesda (dulu RS Petronella) dan RS Dr. Soetarto (dulu RS Militer) sudah ada.
  5. Di kawasan Terban (sekarang barat Jl. C. Simanjuntak) masih didominasi kuburan Cina.

 

Menurut ilmu proyeksiku yang tidak bisa dipertanggungjawabkan , apabila Race-terrein diproyeksikan pada peta modern Google Maps, akan diperoleh hasil sebagai berikut.

 

peta bekas arena lapangan pacuan balap kuda di kota yogyakarta

 

Pada masa kini arena pacuan kuda Langensari itu dibatasi oleh Jl. Balapan, Jl. Langensari, Jl. Munggur, dan Jl. Urip Sumoharjo. Mungkin dahulu dari sepanjang jalan-jalan tersebut orang-orang bisa menyaksikan kuda-kuda berpacu.

 

Dari penelusuran arsip di situs Nationaal Museum van Wereldculturen, terdapat sejumlah foto yang menunjukkan arena pacuan kuda Langensari ketika masih eksis. Dimulai dari foto tahun 1925 yang menunjukkan bangunan Centrale Werkplaats (Balai Yasa) dari ketinggian. Sepertinya foto ini dijepret dari puncak menara air. 

 

bangunan balai yasa pengok yogyakarta pada tahun 1925

 

Apabila bagian kiri foto diperbesar, akan tampak adanya tanah lapang yang luas dan deretan rumah. Tanah lapang itu bisa jadi adalah arena pacuan kuda Langensari. Sedangkan deretan rumah itu adalah rumah dinas pegawai Centrale Werkplaats

 

Saat ini, hanya deretan rumah dinas yang masih eksis. Perhatikan juga bahwa pada tahun 1925 deretan pohon kenari besar yang sekarang merindangi Jl. Kusbini belum tampak.

 

lapangan pacuan balap kuda langensari dilihat dari balai yasa pengok yogyakarta pada tahun 1925

 

Kemudian, ada pula foto rumah-rumah dinas pegawai Centrale Werkplaats di bawah. Foto ini sama-sama dijepret pada tahun 1925. Mungkin sang fotografer mengabadikan foto ini bersamaan dengan foto bangunan Centrale Werkplaats di atas.

 

Pada foto ini tampak jelas rumah-rumah dinas beserta taman yang mempercantiknya. Pohon-pohon kenari masih berwujud kecil. Adapun wujud sebagian besar rumah dinas hingga kini tidak banyak berubah. Khsusunya, rumah dinas di paling kiri.

 

kompleks perumahan dinas pegawai balai yasa pengok yogyakarta pada tahun 1925

 

Lagi-lagi, apabila foto di atas diperbesar akan tampak arena pacuan kuda Langensari. Ada sebuah tanah lapang tanpa pepohonan di tengahnya.

 

Di sisi utara lapangan terlihat adanya sejumlah bangunan yang membujur barat-timur. Mungkinkah bangunan itu istal kuda dan tempat penonton? 

 

Ada juga bangunan kecil yang berdiri di depan deretan bangunan panjang. Posisinya seperti agak masuk ke lapangan. Mungkin itu bangunan tempat juri?

 

Apabila sudut lain pada foto diperbesar akan tampak pagar yang membatasi area pacuan kuda dari jalan umum. Sepertinya pagar tersebut berupa tiang-tiang kayu yang ditancapkan dan saling terhubung kawat.

 

tribun dan istal arena lapangan balap pacuan kuda langensari yogyakarta pada tahun 1925

pagar pembatas jalan raya dengan arena lapangan balap pacuan kuda langensari yogyakarta pada tahun 1925

 

Sayang, sekarang arena pacuan Langensari bernasib sama seperti arena pacuan kuda lain. Sudah beralih fungsi, lenyap tak bersisa.

 

Yang tersisa dari arena pacuan kuda Langensari hanyalah toponim dan bentuk jalan. Untuk mengais sisa-sisa arena pacuan kuda pun bakal sulit dan boleh jadi mustahil. Kawasan ini sudah padat bangunan. Entah itu rumah, kampus, hingga deretan toko-toko di sepanjang Jl. Urip Sumoharjo. 

 

kampus AA YKPN Yogyakarta pada zaman dahulu

rumah tua dinas dosen AA YKPN Yogyakarta pada zaman dahulu

 

Akan tetapi, arena pacuan kuda tidak serta-merta lenyap dari Yogyakarta. Di sisi barat Stadion Sultan Agung alias Stadion Pacer di Bantul terdapat arena pacuan kuda. Hingga sekarang arena itu masih digunakan. Semoga ke depannya tidak digusur.

 

Setidaknya masyarakat Yogyakarta masih lumayan akrab dengan kuda. Terutama jika dolan ke sepanjang Jl. Malioboro. Sayang, ongkosnya ora nguati.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!