Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Minggu, 20 Januari 2019, 15:13 WIB

Sabtu (18/11/2018) yang lalu, Rini memandu aku dan Dwi jalan-jalan melihat-lihat bangunan-bangunan tua di Dusun Sewugalur. Mulai jalan-jalannya sekitar pukul 5 sore. Selesainya ketika azan Magrib berkumandang.

 

 

Setelah menunaikan salat Magrib di Masjid Al-Mustofa, Rini mengajak makan malam. Katanya, makanannya orang Sewugalur zaman dulu.

 

Jadilah dengan membuntuti sepeda motor Rini, melajulah kami ke suatu warung makan. Letaknya persis di seberang Pasar Mbabrik Sewugalur. Di tembok depan warung terpajang papan bertuliskan Bakmi Lethek Jog Dhe Mbabrik 1969.

 

papan nama bakmi lethek jog dhe mbabrik sewugalur

 

Kami pun masuk ke warung. Pengunjungnya masih nihil. Sesaat kemudian bapak pemilik warung datang menyambut dari dapur. Baru buka katanya. Sudah bisa memesan juga katanya.

 

Oh, rupanya tadi bapak warung juga salat Magrib di Masjid Al-Mustofa. Beliau juga melihat kami memotret-motret bangunan-bangunan tua. Wah, jadi nggak enak.

 

Dua porsi bakmi godhog dan dua gelas teh panas manis pun dipesan. Oleh sebab siang tadi kami baru menyantap mie instan, jadinya Dwi nggak kuat kalau harus menyantap seporsi bakmi utuh. Alhasil, aku dan Dwi sepiring bakmi berdua deh.

 

suasana warung bakmi jog dhe mbabrik sewugalur

 

Sambil menunggu pesanan terhidang, mataku jelalatan mengamati suasana warung. Menurut pengamatanku #maaf suasana warungnya terkesan jadul. Dindingnya dari anyaman bambu. Begitu pula dengan langit-langitnya. Nggak jauh beda dengan rumah zaman dulu.

 

Di dalam warung tertata banyak perabot kayu. Di atas lemari kayu di dekat dapur, bertengger rangka (frame) sepeda federal. Sepertinya, bapak warung menggemari sepeda. Di teras warung terparkir sepeda federal dan sepeda lipat yang catnya masih kinclong.

 

Handie talkie (HT) yang terus-menerus menyiarkan obrolan turut mengiringi irama aktivitas memasak sang bapak di dapur. Mungkin bapak warung juga berafiliasi dengan sesuatu kelompok yang berkomunikasi menggunakan HT.

 

Selain sepeda dan HT, sepertinya bapak warung juga hobi memancing. Di balik pintu warung tersimpan joran. Di tembok depan juga tertempel poster lomba memancing lele.

 

Menarik juga ya kegemarannya bapak pemilik warung ini.

 

lemari kayu antik bakmi jog dhe mbabrik sewugalur

 

Setelah sekian belas menit menunggu, datanglah pesanan yang dinanti-nanti. Apalagi kalau bukan bakmi lethek godhog. Nyam!

 

Makanan yang disebut sebagai mie lethek adalah mie yang dibuat dari singkong. Sebelum dimasak warnanya putih butek. Bentuknya tipis halus. Mirip bihun, tapi sedikit lebih besar.

 

 

Bakmi lethek godhog Jog Dhe Mbabrik diracik dari mie lethek, kubis, telur, dan suwiran ayam. Nggak ketinggalan pula rajangan daun bawang, taburan daun seledri, serta bawang goreng.

 

Sepengecapanku, bumbu bakmi lethek godhog-nya mirip-mirip bumbu bakmi Jawa godhog. Bawang putih dan kemiri terkecap jelas. Sepertinya turut diberi sedikit rajangan cabai rawit. Walau begitu rasanya nggak terlampau pedas.

 

Kuah bakmi godhog-nya gurih dan menyegarkan. Aku suka dengan kuah bakmi seperti ini. Nggak pekat berbau amis telur seperti bakmi Jawa godhog pada umumnya.

 

review bakmi lethek jog dhe mbabrik sewugalur

 

Perlu diperhatikan, teh panas manis yang kami pesan sangat mengesankan! Tehnya dihidangkan oleh bapak warung seusai beliau menghidangkan bakmi godhog.

 

Saat menatap wujud cangkir teh (padahal cangkir hadiah produk kopi sih ), seketika aku membayangkan teh ini disajikan dari masa lampau. Aku juga membayangkan, betapa amboinya jika gulanya adalah gula batu. Eh, ternyata tehnya benar-benar memakai gula batu!

 

Cangkir kaleng berukuran kecil turut mendampingi hadirnya cangkir teh manis panas. Cangkir kaleng ini isinya teh untuk isi ulang. Cam-caman kalau bahasanya Dwi.

 

 

Satu yang pasti, rasa teh panasnya legit mantap jaya! Istimewa!

 

Ini jujur ya! Bukan alay melebih-lebihkan!

 

Ini adalah salah satu teh manis panas terbaik yang pernah aku minum selama hidup di Yogyakarta.

 

Cobalah!

 

review teh manis panas jog dhe mbabrik sewugalur

 

Aku memberi nilai 8 dari 10 untuk bakmi lethek godhog Jog Dhe Mbabrik. Ini adalah sajian mie tradisonal khas Jogja yang wajib dicoba jika ingin menyantap bakmi godhog dengan wujud yang berbeda.

 

Harganya pun murah. Cukup membayar Rp10.000 per porsi untuk bakmi lethek godhog dan Rp2.500 untuk secangkir teh manis panas. Murah banget kan dibandingkan dengan harga bakmi di Jakarta?

 

rini bloger kulonprogo jogja galur

 

Baik bakmi lethek godhog maupun teh manis panasnya seakan menyimpan cerita masa lampau Dusun Sewugalur. Cerita-cerita itu seakan-akan keluar ketika kita menyantap hangatnya bakmi lethek godhog dan menyesap manisnya teh panas.

 

Sungguh suatu sajian yang tepat sebagai penutup jalan-jalan sore menapak tilas sejarah di Dusun Sewugalur.

 

 

Sehabis makan dan menjajal sepeda motor barunya Rini, aku dan Dwi pun bertamu ke rumahnya. Kebetulan, sejak selesai salat Magrib tadi aku kepingin pipis. #eh


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • DWI SUSANTI
    avatar 11676
    DWI SUSANTI #Senin, 21 Jan 2019, 17:24 WIB
    Foto wajahku kok blur semuaa :(
    Aku jadi pingin minum tehnya lagi deh. Bukannya alay atau lebay ahaha tapi pancen tehnya
    nak banget.
  • JULIYANTO
    avatar 11677
    JULIYANTO #Rabu, 23 Jan 2019, 19:12 WIB
    Belum pernah mampir kesini, pdahal sering
    lewat depan warung ini,,, jd pengen nyobain
    mie nya tp lg merantau di pulau sebrang 😥
    😥 masuk wishlist kalau pulkam nanti