Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Selasa, 23 Januari 2018, 05:00 WIB

Sebutlah nama Cinomati, maka warga Jogja yang mengenalnya pasti bakal mengingat tanjakan terjal nan curam di Kabupaten Bantul yang menghubungkan Desa Wonolelo (Kecamatan Pleret) dengan Desa Terong (Kecamatan Dlingo).

 

Sedangkan kalau menyebut nama Cinourip... pasti lebih banyak warga Jogja yang garuk-garuk kepala karena kebingungan, hahaha.

 

 

Yah, kalau ada ruas jalan yang disebut Cinomati (cina + mati), wajar pula toh kalau ada ruas jalan yang disebut Cinourip (cina + hidup)?

 

 

Apalagi kedua ruas jalan ini lumayan berdekatan dan berwujud sama.
Sama-sama TANJAKAN maksudnya.

 

 

Letak Tanjakan Cinourip

Cinourip adalah panggilan akrab kami (aku + Mbah Gundul) untuk menyebut ruas jalan di Kabupaten Bantul yang menghubungkan Dusun Pucungrejo (Kecamatan Imogiri) dengan Dusun Ngliseng (Kecamatan Dlingo).

 

Dusun Pucungrejo terletak di Desa Wukirsari. Sedangkan Dusun Ngliseng terletak di Desa Muntuk. Jadi, Cinourip ini juga merupakan ruas jalan yang menghubungkan Desa Wukirsari dengan Desa Muntuk.

 

peta lokasi ruas jalan alternatif penuh tanjakan cinomati dan cinourip di bantul yogyakarta

 

Seperti yang bisa dilihat pada peta, ruas jalan Cinourip terletak di wilayah tenggara dari Kota Jogja. Jaraknya ya… sekitar 20 km kalau dihitung dari Tugu Pal Putih.

 

Berikut adalah panduan rute menuju ruas jalan Cinourip dari Kota Jogja.

 

  1. Dari Kota Jogja pergilah ke Kotagede.
  2. Dari Kotagede seberangi Ringroad Selatan dan ikuti jalan hingga sampai di Pleret.
  3. Dari Pleret seberangi jembatan masuk ke wilayah Desa Segoroyoso.
  4. Di Perempatan Kloron (Swalayan Amanda) ambil cabang jalan ke kanan (selatan).
  5. Ikuti jalan sejauh kira-kira 3 km hingga masuk di wilayah Dusun Pucungrejo.
  6. Selanjutnya tinggal ikuti papan petunjuk arah ke hutan pinus.

 

peta medan ruas jalur tanjakan cinourip di bantul yogyakarta

 

He? Hutan pinus?

 

Yup! Cinourip merupakan ruas jalan alternatif yang lebih singkat untuk menuju ke kawasan hutan pinus. Yang dimaksud dengan hutan pinus jelaslah kawasan hutan pinus yang terletak di Kecamatan Dlingo yang kini dipenuhi spot-spot foto yang unik-unik.

 

Untuk Pembaca hendak singgah di Puncak Becici (yang jadi tenar karena Pak Barrack Obama pernah ke sana ), waktu tempuh perjalanan bakal lebih singkat bila melalui ruas jalan Cinourip dibanding memutar lewat Cinomati atau Makam Pajimatan Imogiri.

 

Di Awal Tanjakan Cinourip

Barisan perbukitan yang menjulang tinggi menyambut setiap pelancong yang hendak melintasi ruas jalan Cinourip. Wilayah Kecamatan Dlingo kan berada di atas perbukitan. Jadi, kalau mau ke Dlingo mau nggak mau ya harus nanjak toh?

 

Yuk, mari kita bersiap nanjak!

 

pemandangan dua anak sd berseragam olahraga sedang berlari di jalan aspal dengan latar perbukitan hijau ngliseng muntuk dlingo bantul yogyakarta

deretan rumah-rumah warga di sepanjang jalan alternatif yang menghubungkan desa pucungsari di imogiri bantul yogyakarta

 

Berbeda dengan ruas jalan Cinomati, saat memasuki awal ruas jalan Cinourip aku perhatikan masih banyak rumah warga. Warung kelontong ya jelas ada. Buatku, suasana pemukiman seperti ini lumayan mendongkrak mental sewaktu menjelajah tempat-tempat asing.

 

Medan jalan di pemukiman warga ini pelan-pelan mulai terasa menanjak. Tapi kemiringan tanjakannya masih belum membuat dengkul cenat-cenut.

 

Eh, itu tadi aku bilang belum ya.

 

suasana sepanjang jalan tanjakan di pinggir sawah wilayah desa pucungsari wukirsari imogiri bantul yogyakarta

wujud jalan desa tanjakan yang rusak di wilayah dusun pucungsari wukirsari imogiri bantul yogyakarta

 

Setelah melewati area pemukiman, suasana pun berganti menjadi area persawahan. Di sini medan jalan sudah terasa lebih menanjak.

 

Sewaktu bersepeda lewat ruas jalan Cinourip pada Sabtu (21/10/2017) silam, aku sempat berhenti beberapa kali di sepanjang tanjakan area persawahan ini. Selain untuk mengatur napas dan tenaga, pesona hamparan sawah di pinggir jalan acap kali membuatku memuji kebesaran-Nya dan menggodaku untuk mengabadikannya.

 

Subhanallah!

 

foto indahnya pemandangan sawah hijau seperti permadani di sudut desa puncungrejo imogiri bantul yogyakarta

foto indahnya pemandangan lanskap sawah terasering mirip seperti bali melainkan di imogiri bantul yogyakarta

orang jogja berkepala gundul plontos memakai kacamata hitam dan kaos hitam bernama bayu indratomo dengan nama lain ki ageng sekarjagad sedang memotret pemandangan menggunakan kamera digital

 

Semoga di tahun-tahun ke depan, tempat ini masih terbuka untuk disaksikan secara gratis.

 

Semoga juga nggak ada warung-warung makan yang didirikan dan menghalangi pemandangan elok ini.

 

Di Tengah Tanjakan Cinourip

Sebetulnya, setelah melewati tikungan dengan pemandangan sawah yang eksotis itu ada pemandangan menakjubkan yang hanya bisa disaksikan saat musim penghujan.

 

Pada musim penghujan, di salah satu sudut bukit yang menjulang tinggi kita bisa menyaksikan penampakan air terjun dari kejauhan. Air terjun tersebut dikenal sebagai Grojogan Banyunibo Ngliseng. Pada tahun 2015 silam aku pernah menyambanginya.

 

Cerita lengkapnya silakan klik tautan di bawah ini ya!

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul

 

 

Begitu melewati bangunan Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Ngliseng itu artinya sudah setengah perjalanan yang dilalui.

 

Eh, boleh juga sih kalau menganggapnya sebagai sudah setengah tanjakan yang dilalui.

 

Tapi tenang, walaupun lebih panjang dari ruas jalan Cinomati, panjang ruas jalan Cinourip ini hanya sekitar 3 km kok.

 

alamat lengkap siswa-siswi murid sekolah madrasah ibtidaiyah ngliseng dlingo bantul yogyakarta

suasana jalan desa sepi berwujud tanjakan di pinggir tebing yang masuk wilayah desa ngliseng dlingo bantul yogyakarta

suasana tanjakan jalan desa yang dikelilingi hutan bambu di desa ngliseng dlingo bantul yogyakarta

 

Medan penuh siksa yang sesungguhnya dimulai setelah melewati tikungan dengan cabang jalan ke Grojogan Banyunibo Ngliseng.

 

Kontur jalannya menanjak walaupun tidak semenanjak ruas “tanjakan vertikal” Cinomati. Yang membuatnya menyebalkan adalah ruas jalan menanjak ini panjang banget!

 

Untungnya di sepanjang jalan terdapat sejumlah buk (tembok kecil) di pinggir jalan yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk duduk-duduk. Untungnya pula hawa pada pukul delapan pagi lewat sedikit itu masih lumayan sejuk.

 

cerita pengalaman bersepeda menyusuri jalan tanjakan di desa pucungsari yang tembus ke ngliseng dlingo bantul yogyakarta

wujud ruas jalan tanjakan paling curam yang menghubungkan desa pucungsari wukirsari imogiri dengan ngliseng dlingo bantul yogyakarta

 

Aku sempat menyerah nanjak dan menyenderkan Trek-Lala di salah satu buk. Sambil meneguk air minum yang kian menipis aku menyesapi suasana sekitar.

 

Nggak ada orang lewat.
Nggak ada suara kendaraan.
Nggak ada pula hewan yang melintas.
Yang ada hanyalah gemerisik daun yang tertiup angin serta melodi serangga hutan.

 

Ah, kok ya suasananya damai sekali ya?

 

Mungkin kalau ini bukan di tengah jalan yang menanjak aku bisa lebih menikmati suasananya, hahaha.

 

sepeda gunung mtb warna kuning bersandar di buk di pinggir ruas jalan alternatif ke puncak becici dan hutan pinus mangunan

 

Sepeda aku kayuh kembali selang beberapa menit kemudian. Irama degup jantung sudah mulai nyaman untuk melahap tanjakan.

 

Dari kejauhan aku melihat Mbah Gundul duduk bersila di atas buk. Ia sedang asyik menikmati jajanan pasar sembari menonton aku yang kepayahan mengayuh pedal di tanjakan. Senyum terkembang di wajahnya tatkala aku akhirnya tiba.

 

“Tanjakan Cinourip kok ndedel ya Mbah?” keluhku sambil mengatur napas.

 

“Hehehe,” Mbah Gundul cengangas-cengenges gembira. “Salahmu! Cinourip itu kan memang lebih berat dari Cinomati!”

 

“Hah!?” aku terkejut. “Bukannya mestinya Cinomati yang lebih berat ya Mbah? Kan sudah mati?”

 

“Nggak yooo! Justru malah lebih berat Cinourip karena masih hidup. Kalau sudah mati kan jadi enteng.”

 

“Lha, kok bisa lebih berat Cinourip Mbah?” aku penasaran.

 

“Iya, karena pas hidup kan keberatan dosa!

 

Holadalaaa!

 

seniman orang jogja bernama bayu indratomo dengan nama lain ki ageng sekarjagad sedang duduk bersila di buk tengah hutan sambil menyantap jajanan pasar pleret

 

Setelah sedikit istirahat dan mengobrol ringan dengan Mbah Gundul perjalanan pun berlanjut. Itu artinya melanjutkan perjuangan melibas tanjakan. Di depan, tanjakan terjal yang lumayan panjang sudah menanti.

 

Aku yang start mendahului Mbah Gundul menyerah di tengah-tengah tanjakan. Sedangkan seperti biasa, Mbah Gundul dengan santainya menyalipku. Tapi untunglah tanjakan ini merupakan tanjakan yang paling berat di antara sekian ruas tanjakan di jalur Cinourip.

 

suasana pemandangan di ruas jalan tanjakan panjang ngliseng dlingo bantul yogyakarta yang tembus ke puncak becici

seorang pesepeda yogya difoto dari belakang sedang berusaha mengayuh sepeda melintasi tanjakan di dusun ngliseng bantul yang menghubungkan desa pucungsari wukirsari dengan obyek wisata puncak becici dan pinus asri mangunan

 

Di Akhir Tanjakan Cinourip

Selepas melibas tanjakan terberat bukan berarti jalan datar yang mulus sudah di pelupuk mata. Kontur jalannya masih menanjak walaupun masih dapat dilalui pelan-pelan dengan setelan gir depan dan gir belakang 1.

 

Suasana di sekeliling pun mulai berubah. Pohon-pohon pinus terlihat memadati sepanjang kiri dan kanan jalan. Walaupun kurang pantas disebut sebagai hutan pinus, kawasan pohon-pohon pinus ini seakan menjadi tanda bahwa kami telah resmi memasuki kawasan hutan pinus di Dlingo.

 

suasana ruas jalan tanjakan yang dikelilingi oleh lebatnya hutan pinus indah di wilayah dusun ngliseng dlingo bantul yogyakarta

kondisi suasana puncak ruas jalan tanjakan di jalur alternatif yang menghubungkan desa pucungsari wukirsari imogiri dengan desa ngliseng dlingo bantul yogyakarta

 

Akhirnya, setelah perjuangan bersepeda nanjak selama satu setengah jam, aku pun tiba di titik akhir ruas tanjakan Cinourip yang berwujud suatu perempatan. Dari perempatan ini bila mengambil cabang jalan ke arah kiri akan mengarah ke Puncak Becici dan Patuk. Sementara bila mengambil cabang jalan ke arah kanan akan mengarah ke hutan pinus Mangunan.

 

Aku dan Mbah Gundul mengambil cabang jalan ke arah kanan. Perjalanan bersepeda kami pada hari Sabtu ini masih jauh dari usai.

 

petunjuk arah di perempatan ngliseng arah ke hutan pinus mangunan atau puncak becici atau pintu langit mbah dagromo di kawasan dlingo mangunan bantul yogyakarta

 

Bagi Pembaca yang mencari jalur alternatif menuju hutan pinus Mangunan dengan pemandangan jalan yang menawan boleh lho mencoba melewati ruas tanjakan Cinourip. Kalau tujuannya ke Puncak Becici, lewat Cinourip jelas lebih cepat daripada lewat Jl. Imogiri Timur ataupun Cinomati.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • NBSUSANTO
    avatar 11286
    NBSUSANTO #Selasa, 23 Jan 2018, 16:46 WIB
    apik tenan ik! semoga sesuk nek balik jogja sempet dolan liwat kene.. masih banyak tempat
    yang menunggu didolani di jogja.. angel mbagi waktu sabtu-minggu 1-2 bulan sekali untuk
    dolan.. :|
    Mugo-mugo pas dirimu merene kondisine isih alami. Ora ono wong sugih duwid sing ngadeg e kafe nang cerak sawah-sawah kono. :p
  • WARM
    avatar 11288
    WARM #Kamis, 25 Jan 2018, 08:19 WIB
    Wooo kok ya saya baru tau. Ntar deh kapan-kapan njajal liwat situ. Etapi kapan ya? Hehehe.
    Jajal wae Om. Nek dirimu lamaaa banget di Jogja tapi, hahaha. :D
  • WINSRAGANS
    avatar 11290
    WINSRAGANS #Kamis, 25 Jan 2018, 22:03 WIB
    Alternatif yang menantang.
    Hati-hati nek lewat sini Brooo.
  • MARYANTO
    avatar 11475
    MARYANTO #Kamis, 21 Jun 2018, 16:51 WIB
    Ada idiom jika bisa menaklukkan tanjakan Nglingseng (Cino Urip) tanpa melepaskan kaki dari pedal sampai akhir tanjakan, artinya kamu bisa menaklukkan semua tanjakan di Jogja.
    Perlu belajar rute dulu untuk menaklukkan jalur ini. Ngebut di awal dipastikan bakalan habis setelah masuk SD Maarif itu.
    Kalau aku sih untuk memasok tenaga bawa minum air putih campur gula aren, agar kepala gak nyut nyutan. Jadi, bisa selesai tanpa nglepas pedal, itu juga kadang kalau kurang fit 100% masih gak lolos tanpa nuntun.
    Waaaaw!!! Beringassss! Lolos tanjakan Cino Urip tanpa berhenti! :D
    Memang setiap jalur tanjakan itu ada baiknya dipelajari dulu kalau mau dilibas tanpa berhenti memedal, hahaha. :D
    Weh, ternyata ramuan air putih campur gula aren itu berkhasiat juga ya?