Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Minggu, 27 Agustus 2017, 04:30 WIB

Etika Berwisata Peninggalan Bersejarah

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak peninggalan bersejarah! Kalau bisa batasi kontak fisik ke benda tersebut!
  3. Baca informasi sejarahnya. Kalau perlu difoto dan dibaca lagi di rumah.
  4. Patuhi peraturan yang berlaku!
  5. Jaga sikap dan sopan-santun!
  6. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  7. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Haiii hooo!

 

Lanjut lagi kita dengan cerita bersepeda di Girimulyo.

 

Masih pada hari Rabu (18/1/2017).

Masih di Yogyakarta.

Masih di Kulon Progo.

Masih di Girimulyo.

 

 

Dan ya... Girimulyo....

 

Girimulyo itu nama salah satu kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.

 

Nama Girimulyo berasal dari dua kata, giri dan mulyo. Giri artinya gunung. Mulyo artinya mulia. Jadi, kalau digabung, Girimulyo artinya gunung yang mulia. #asal.njeplak

 

Bisa jadi Girimulyo diberi nama demikian karena letak wilayahnya berada di Perbukitan Menoreh. Dan karena letak Girimulyo ada di perbukitan alias ketinggian, maka untuk ke sananya ya jelas jalannya NANJAK!

 

 

Rute dari Kota Jogja ke Girimulyo sebenarnya nggak sulit-sulit amat. Dari simpang empat Tugu Pal Putih yang tersohor itu silakan ambil cabang jalan ke arah barat. Setelahnya LURUUUS terus sejauh kira-kira 30 km

 

Aku sendiri butuh waktu sekitar 4  jam bersepeda dari Kota Jogja menuju Girimulyo.

 

  • Berangkat dari simpang empat Tugu Pal Putih pukul 6 pagi.
  • Lewat di depan Pasar Godean pukul setengah 7 pagi. 
  • Nyeberang ke Kulon Progo lewat Jembatan Kali Progo pukul 7 pagi.
  • Setelah itu berjuang sekuat tenaga bersepeda nanjak dan tiba di Pasar Jonggrangan pukul setengah 11 siang.

 

 

Eh, tentu saja perjalanan bersepeda ke Girimulyo ini juga diselingi adegan istirahat dan menuntun sepeda.

 

Lanjut Menyusuri Girimulyo dari Pasar Jonggrangan

Pasar Jonggrangan adalah salah satu pasar di Girimulyo. Sesuai namanya, pasar ini terletak di Dusun Jonggrangan di Desa Jatimulyo.

 

Bagi para pesepeda, Pasar Jonggrangan ibarat titik peristirahatan utama setelah perjalanan yang panjang, nanjak, dan melelahkan. Awalnya, aku berniat mengisi perut di warung makan dekat pasar. Tapi, sayang di sekitar pasar aku perhatikan nggak ada yang menggugah selera.

 

Jadilah aku berpikir,

 

“Ngikutin jalan raya ini saja. Siapa tahu nanti ketemu warung makan.”

 

Lagipula, toh perut memang belum terlalu merengek-rengek minta diisi ini.

 

suasana sepi di depan pasar jonggrangan jatimulyo kulonprogo
Pasar Jonggrangan yang sepi.

 

Nggak begitu jauh dari Pasar Jonggrangan ada percabangan jalan menuju Gua Kiskendo. Yang bikin aku takjub adalah cabang jalan ke Gua Kiskendo sekarang sudah lebar, mulus, dan bagus.

 

Aku sedikit bertanya-tanya pas melihat jalan yang sudah bagus ini. Apa mungkin jalannya dibuat bagus supaya bus-bus pariwisata mudah berlalu-lalang ya?

 

Tapi, bus-bus apa bisa sampai ke Girimulyo? Setahuku, semua jalan ke Girimulyo kan wujudnya tanjakan terjal. Bus apa ya kuat nanjak lewat situ? Ataukah ada jalan nanjak lain yang lebih landai dan ramah untuk dilewati kendaraan besar?

 

Ini masih menjadi misteri....

 

cabang jalan mulus arah gua kiskendo dekat pasar jonggrangan
Belok kiri arah ke Gua Kiskendo. Jalan bagus untuk bus kah?

 

Di percabangan jalan menuju Gua Kiskendo itulah aku membatin.

 

“Seumur-umur, bersepeda ke Gua Kiskendo sudah berkali-kali, tapi menyusuri jalan raya utama malah belum pernah.”

 

... hmmm ...

 

 

Mendadak tercetus “ide gila”.

 

“Cobain ah menyusuri jalan raya utama. Kayaknya, tembusnya di Pasar Plono deh.”

 

Sekedar info, Pasar Plono adalah nama pasar di  Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo. Wisatawan yang hendak berkunjung ke Desa Wisata Nglinggo umumnya bakal melewati pasar ini.

 

sepeda tergeletak di ruas jalan menanjak di girimulyo, kulon progo
Trek-Lala saja capek nanjak. #eh

 

Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Medan jalan raya utama setelah cabang jalan ke Gua Kiskendo ternyata tetap NANJAK!

 

Hadoooh!

 

Runyam ini urusan! Apa jalan sampai ke Pasar Plono bentuknya tanjakan kayak begini juga ya? Mana sepanjang jalan tadi nggak ada warung makan pula.

 

Sabar... sabar...

 

jalan raya bagus lebar mulus yang menghubungkan kulon progo dan purworejo
Kucek-kucek mata. Siapa tahu selepas tanjakan tadi pindah ke dunia lain.

 

Beberapa ratus meter setelah tanjakan terakhir aku menjumpai pemandangan yang sungguh menawan mata seperti foto di atas itu.

 

Mataku pun terbelalak.

 

Jalan raya yang lebar, mulus, dan MENURUN!

 

Alhamdulillah! Gusti Allah SWT mboten sare, gur aku sing keturon!

 

Tapi ya aku masih takjub juga. Kok bisa-bisanya di Perbukitan Menoreh ada jalan raya yang sebagus ini sih?

 

suasana jalan raya bagus di perbukitan menoreh wilayah girimulyo, kulon progo
Mulus-mulus nanjak tetap nggak apa-apa!

 

Selanjutnya bisa ditebak. Adalah suatu kebahagiaan bisa bersepeda di jalan bagus seperti ini.

 

Di beberapa ruas kontur jalannya masih menanjak, tapi ya SEBODO AMAT!

 

Tanjakannya nggak terjal-terjal amat. Lagipula ya itu, kebahagiaan bersepeda di jalan yang bagus seakan mengalahkan kesusahan ketika nanjak, hahaha.

 

 

Sampai akhirnya, di pertigaan Desa Purwosari kebahagiaan itu sirna berganti dengan kebimbangan.

 

Aku bimbang gegara papan arah di bawah ini!

 

papan petunjuk arah ke curug glimpang, curug ratmi, curug bendo, dan curug gandu
Godaan terberat pada siang hari selain es campur.

 

Sejak awal bersepeda di Girimulyo tadi, sebetulnya sudah bertebaran itu papan arah ke curug-curug. Tahu sendirilah, Kulon Progo sekarang kan sedang gandrung dengan wisata curug alias air terjun.

 

Girimulyo pun nggak terkecuali. Lokasinya yang berada di Perbukitan Menoreh turut menganugerahi Girimulyo dengan sejumlah curug. Pada tahun 2014, aku dan kawan-kawan pernah menyambangi salah satu curug di Girimulyo yang bernama Grojogan Sewu.

 

 

Hanya saja, agenda bersepeda kali ini nggak ada niatan untuk main ke curug. Misi bersepedaku ya hanya sebatas nanjak ke Girimulyo, makan, turun, terus pulang, dan lanjut ngoding.

 

Tapi, karena sudah bersepeda sampai sejauh ini ditambah misi yang terlanjur ter-extend, godaan papan arah di atas itu sangat-sangat susah untuk dilawan, hahaha.

 

Apalagi sewaktu mendengar penuturan si ibu warung tempatku menyetok perbekalan,

 

“Curugnya nggak jauh Mas. Jalan ke sananya turun terus. Nanti kalau diteruskan bisa tembus ke Nanggulan juga.”

 

rute cabang jalan ke arah curug glimpang, ratmi, bendo, gandu, serta gua maria lawaningsih
Cabang jalan ke arah curug sekaligus tembus Nanggulan itu.

 

Jadi ya... misi ke Pasar Plono dicoret dan diganti misi pulang ke Nanggulan lewat curug.

 

Pulang ke Nanggulan Mampir Curug Glimpang

Benar katanya si ibu warung. Dari pertigaan jalan utama ke arah Curug Glimpang jalannya TURUN TERUS!

 

Inilah yang disebut nikmat dunia bagi para pesepeda ....

 

 

Eh, aku sempat juga lewat percabangan jalan ke arah Gua Maria Lawaningsih. Kalau ingat Gua Maria aku jadi ingat sama Pakdhe Timin yang punya misi menyambangi Gua Maria. Entah sudah clear atau belum misinya itu.

 

jalan turunan menuju gua maria lawaningsih di girimulyo, kulon progo
Rambu kuning yang menjadi favorit setiap pesepeda.

 

Nggak sampai 10 menit menikmati jalan turunan, papan nama curug terlihat di kiri jalan. Di dekat papan itu berdiri pos retribusi. Tapi, mungkin karena waktu itu hari Rabu jadinya yang jaga nggak ada, hehehe.

 

“Ayo, ikut saya saja Mas. Jalan pulang ke rumah saya searah dengan ke curug.”, ajak seorang ibu yang baru pulang ngarit

 

Kami berdua pun berjalan kaki menuju curug. Trek-Lala aku tuntun. Itu karena selepas pos retribusi jalannya turunan terjal! Mana licin pula. Hadeh....

 

gapura tarif masuk curug glimpang, ratmi, bendo, gandu di pos retribusi desa purwosari girimulyo
Masuk gratis mumpung nggak ada yang jaga.

 

Dari pos retribusi, kami turun melewati turunan terjal dan ketemu lapangan. Di dekat lapangan ada jalan setapak tanah yang mengarah ke curug. Yang perlu diperhatikan adalah jalan setapak ini berwujud tanah liat. Jadinya, gumpalan tanah mesti menempel di alas kaki.

 

“Sepedanya parkir di sini saja Mas.”, saran si ibu begitu kami memasuki kawasan hutan pinus

 

Jadi, sebelum memasuki wilayah per-curug-an, pengunjung bakal memasuki kawasan hutan pinus yang bernama Taman Srumbung Sari. Hutan pinusnya nggak sebegitu luas sih. Tapi di sini ada banyak gubug (untuk beristirahat), pos SAR (wow!), dan tentunya toilet (lokasi ngendog).

 

suasana hutan pinus asri masih sepi bernama srumbung sari di girimulyo
Parkir sepeda di hutan pinus.

 

Setelah mengunci aman Trek-Lala ke salah satu batang pohon, perjalanan pun berlanjut menghampiri sumber suara gemuruh air yang kian terasa dekat. Benar saja, puncak Curug Glimpang nampak di pelupuk mata!

 

“Ini Curug Glimpang. Kalau di sana curug yang lain lagi.”, si ibu menunjuk jalan setapak yang menyusuri pinggir sungai

 

Sesuai perkataan si ibu dan arahan di papan petunjuk, di kawasan ini terdapat empat curug, yaitu Curug Glimpang, Curug Ratmi, Curug Bendo, dan Curug Gandu.

 

Asyik toh? Dalam satu kawasan ada banyak curug?

 

pemandangan indah sejuk curug glimpang di desa purwosari, girimulyo, kulon progo
Salam dingin dari Curug Glimpang.

 

Di kawasan Curug Glimpang ini aku berpisah dengan si ibu. Beliau melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya di seberang sungai. Setelah beberapa menit menjeprat-jepret aku pun meninggalkan lokasi.

 

Kalau menurut pengamatanku, Curug Glimpang ini agak kurang sip sebagai obyek foto karena sulit untuk mendekat ke air terjun. Eh, seandainya rela berbasah-basah ria mungkin saja bisa dapat sudut pemotretan yang lebih sip.

 

Tapi, aku sendiri seumpama harus berbasah-basahan ya... nanti dulu deh!

 

Kan siang ini masih harus bersepeda pulang yang jaraknya lumayan jauh. Mana belum tentu sepanjang jalan medannya turunan terus.

 

curug kecil tersembunyi tak bernama di desa purwosari, girimulyo
Ini sih curug buatan yang kebetulan sih fotogenik.

 

Pada kesempatan kali ini aku cuma singgah di Curug Glimpang. Semoga suatu saat nanti bisa balik lagi ke sini dan mengunjungi Curug Ratmi, Curug Bendo, dan Curug Gandu.

 

Oh iya, Curug Glimpang ini lokasinya ada di Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Rute menuju ke mari enaknya ya serupa dengan rute bersepedaku ini, hehehe.

 

Samigaluh dan Sesuatu yang Membuat Kaget

Saat sedang menuntun Trek-Lala di lapangan dekat tanjakan ke pos retribusi, seorang bapak dan pemuda desa menghampiriku. Seperti biasalah kami pun ngobrol-ngobrol. Kesempatan ini nggak aku sia-siakan untuk mengorek informasi perihal rute pulang.

 

“Ngikuti jalan aspal ini nanti tembusnya bisa di Perempatan Kenteng Mas. Tapi hati-hati Mas, soalnya jalannya turunan tajam dan licin.”, kata si mas pemuda

 

“Oh yo, sip Mas! Eh, apa di depan nanti juga masih ada tanjakan?”, aku penasaran

 

“Eh....”, si mas pemuda menatap ke si bapak, “Ada Mas. Tapi, kalau masnya ya kuat lah pakai sepeda.”

 

Hadeh... belum tahu saja si mas pemuda ini kalau aku bersepeda ke Girimulyo juga pakai acara nuntun.

 

jalan turunan dari curug glimpang ke arah samigaluh
Jalan menurun yang terjan dan licin.

 

Seperti yang si mas pemuda bilang, jalan selepas Curug Glimpang ini turunan. Meskipun begitu di sejumlah tempat ya masih ada tanjakannya juga sih. Terutama setelah menyebrangi sungai.

 

Untungnya, meskipun sudah siang tapi cuacanya nggak terasa panas. Mungkin karena jalan yang aku lalui ini ibarat membelah hutan. Banyak dinaungi pohon rindang. Jadinya enak buat bersepeda.

 

Sedangkan hal yang nggak aku suka dari jalan ini adalah suasananya yang sepi banget! Orang lewat jarang. Rumah warga jarang. Warung jarang. Cocoklah jadi area penampakan dhemit, hahaha.

 

jalan turunan di dekat makam di dalam hutan wilayah girimulyo, kulon progo
Kanan-kiri hutan. Semoga nggak ada kejadian apa-apa.

 

Eh, bicara tentang dhemit, pas bersepeda di jalan ini aku melewati suatu pemakaman. Di sana aku lihat ada nisan yang bentuknya unik. Tapi, bentuk nisannya beda seperti nisan yang dulu aku sambangi sama Mbah Gundul.

 

Aku jadi penasaran. Kok di Kulon Progo banyak pemakaman dengan nisan unik seperti ini ya?

 

Hmmm....

 

bentuk nisan unik dari kayu di suatu makam kuburan girimulyo
Nisannya dari kayu, bentuknya unik, dan belum lapuk?

 

Setelah sekian menit bersepeda di jalan yang sepi akhirnya ketemu juga sama bangunan pemerintahan. Di papan namanya tertulis,

 

Kantor Kepala Desa Kebonharjo

Kecamatan Samigaluh

 

HAH!?

 

Kok sudah pindah kecamatan ke Samigaluh aja sih?

 

Nyasar nggak aku ini?

 

pemandangan depan kantor kepala desa kebonharjo samigaluh
Kebonharjo kayaknya bukan nama yang asing deh....

 

Dengan masih menyimpan perasaan yang terkaget-kaget, aku makin dibuat kaget oleh sesuatu hal setelah Kantor Kepala Desa Kebonharjo. Spontan aku berteriak dan menarik perhatian ibu-ibu desa di sekitar sana,

 

“PRINGTALI!?”


Aku bersepeda sampai Pringtali!?

 

WEEEH!?

 

suasana sore hari di dusun pringtali samigaluh, kulon progo
Ya Allah! Kok bisa sampai lagi di tempat ini!?

 

Tanpa pikir panjang, Trek-Lala aku parkir di bawah huruf yang membentuk tulisan Pringtali. Aku lantas mendaki bukit di bawah pohon beringin menuju ke suatu benda yang seakan turut menyambut kedatanganku.

 

“Candinya masih ada!”, aku membatin

 

Candi Mulyo. Itulah nama yang tertera di papan yang terpaku di pohon beringin. Tapi, aku sendiri mengenal situs purbakala ini sebagai Candi Pringtali.

 

Aku pernah menyambangi situs ini pada tahun 2009 silam. Kini, 8 tahun kemudian aku kembali lagi ke mari. Alhamdulillah, Candi Pringtali masih utuh.

 

penampakan wujud kondisi candi mulyo di pringtali samigaluh
Candi Pringtali yang lebih cocok disebut sebagai punden berundak.

 

Ini benar-benar di luar dugaan!

 

Kok bisa-bisanya aku bersepeda sampai Candi Pringtali!?

 

Bener-bener tingkah yang kurang kerjaan!

 

Seandainya Andreas, Agatha, dan Mas Ipuk tahu mungkin mereka juga bakal mengatakan hal yang serupa, hahaha.

 

Turunan Terakhir Menuju Nanggulan

Selesai memotret Candi Pringtali aku pun bergegas melanjutkan perjalanan. Rumah masih jauh dan aku belum menunaikan salat zuhur, hehehe . Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah 2 siang.

 

Beberapa ratus meter setelah Candi Pringtali aku melihat ada papan arah ke musala. Aku pun singgah di musala dan menunaikan salat zuhur di sana. Sekalian juga beristirahat sekitar 10 menit.

 

Setelah puas meluruskan kaki di musala dan lanjut bersepeda sekitar 10 menit, tibalah aku di Desa Nogosari. Di sini jalan bercabang empat. Satu di antaranya mengarah ke Nanggulan dengan medan yang berupa turunan.

 

YES!

 

suasana di perempatan jalan desa nogosari samigaluh
Suasana di perempatan jalan Desa Nogosari.

 

jalan turunan dari desa nogosari samigaluh menuju nanggulan
Turunan dari Desa Nogosari ke arah Nanggulan.

 

Perjalanan melewati turunan panjang dari Desa Nogosari akhirnya berujung di pertigaan Watumurah. Itu lho pertigaan selepas Pasar Kenteng ke arah Gua Kiskendo yang pemandangannya seperti foto di bawah ini.

 

Di pertigaan ini aku mengambil cabang jalan ke arah kiri, kemudian melewati turunan panjang, hingga tiba kembali di Perempatan Kenteng. Setelah itu tinggal ngebut secepat kilat lewat Jl. Godean mumpung hujan belum turun. Sampai di rumah sekitar pukul setengah 4 sore.

 

Eh, di Jl. Godean sempat mampir juga sih jajan bakso, es tape, sama beli nasi padang. #perut.laper.bok

 

pemandangan turun panjang berlatar sawah dari pertigaan watumurah, kulon progo
Pertigaan Watumurah. Kalau lurus terus bakal ketemu tanjakan jahanam.

 

pemandangan awan mendung dengan hamparan sawah kuning di wilayah nanggulan, kulon progo
Mendung pekat sudah mengintai! Segera tancap pedal!

 

Dan selesai sudahlah cerita bersepeda keliling Girimulyo, Kulon Progo yang bukan PEKOK pada hari Rabu ini.

 

Di bawah ini adalah rute dan statistik bersepeda menurut Endomondo. Pas bersepeda pulang di Jl. Godean, ndilalah baterai android-nya habis. Jadinya rekaman Endomondo-nya terpotong sedikit.

 

Ah, ya sudahlah ya....

 

endomondo rute sepeda keliling girimulyo tembus samigaluh
Sembilan jam kurang sedikit belum tergolong pekok.

 

Mari makan nasi padang dulu sebelum lanjut ke cerita berikutnya... 5 hari lagi.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • TOTOK
    avatar 11034
    TOTOK #Senin, 28 Ags 2017, 12:31 WIB
    Mas, foto2 air terjunnya kok tidak seperti biasanya...agak kabur ya dan agak kuning...apa
    karena pengaruh filter? Kalau foto2 yg lain joss!
    ho oh pengaruh filter, pas ini ngeditnya kurang maksimal, hehehe
  • NASIRULLAH SITAM
    avatar 11036
    NASIRULLAH SITAM #Selasa, 29 Ags 2017, 07:40 WIB
    Rute ke sini itu membuat dengkul menjerit mas hahahhahha
    Aku sudah lama nggak main-main ke sini, nunggu fisik kuat dulu :-D
    Dengkul menjerit ya dituntun dunk! Wekekekeke.
  • TURTLIX
    avatar 11037
    TURTLIX #Selasa, 29 Ags 2017, 10:58 WIB
    Mawi, tanggalnya dipastikan agar tidak bergeser, susah kalau harus nempelin satu-satu.
    yoooh
  • FARID
    avatar 11038
    FARID #Selasa, 29 Ags 2017, 12:11 WIB
    Eh,Mas Wijna tadi seru juga macalnya hingga mas bisa melihat air terjun itu.... apa tidak terpengaruh sama yang lainnya? Kalau foto2nya sih bagus...
    Terpengaruhnya sama jalan turunan, hahaha. :D
  • IKURNIAWAN
    avatar 11041
    IKURNIAWAN #Rabu, 30 Ags 2017, 12:00 WIB
    Weh..kok mblusuke keren gini ya
    mantap mas cerita, foto dan blognya
    Blusukan kurang kerjaan itu Bro. :D Terima kasih sudah berkunjung ke sini. :D
  • BURGERKEJU
    avatar 11042
    BURGERKEJU #Rabu, 30 Ags 2017, 12:15 WIB
    Waah... membaca blog-nya seperti ikut ngos-ngosan, mas... hehehehe Saya masih belum
    berkesempatan menjelajah ke Kulon Progo. Semoga dalam waktu dekat
    semoga suatu saat bisa mampir ke Kulon Progo dan menikmati wisata alam di sana yaa! :D
  • ELISA
    avatar 11048
    ELISA #Senin, 4 Sep 2017, 19:52 WIB
    hah...luar biasa ya...
    kurang kerjaan mbak lebih tepatnya, wkwkwkwkw
  • HELLO
    avatar 11049
    HELLO #Senin, 4 Sep 2017, 22:03 WIB
    jalan bagus ..kliatannya itu bedah menoreh...rencananya rute dr bandara -sermo-goa kiskendo-samigaluh-sendang sono-borobudur......
    Iya, katanya mau dibuat jalan raya baru menyusuri Kali Progo ya. Tapi kalau lewat Kiskendo kok seperti naik-naik ke puncak gunung yah? :D
  • DYAANN
    avatar 11065
    DYAANN #Selasa, 12 Sep 2017, 10:38 WIB
    kalo d foto keren ya bos.. padahal saya yang asli daerah candi curug glimpang malah jarang ke sana
  • HELLO
    avatar 11072
    HELLO #Sabtu, 16 Sep 2017, 22:53 WIB
    bukan menyusuri sungai progo..tp lewat atas bukit menorah...wisatawan manca kan biasanya target ke borobudur....nah berhubung lokasi wisata di kulon progo itu lokasinya di bukit menoreh rencananya mau dibuka jalan keborobudur via sermo-kiskendo-suroloyo...nah yg terakir masih lom pasti..mo sendang sono apa langsung ke salaman tru s borobudur....
  • DINDIN
    avatar 11076
    DINDIN #Selasa, 19 Sep 2017, 14:08 WIB
    Wuih,,,Jogja memang ngangeni yo! Jadi pingin mudik lagi....