Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Senin, 10 Juli 2017, 06:06 WIB

Etika Berwisata Alam

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak alam!
  3. Patuhi peraturan dan tata krama yang berlaku!
  4. Jaga sikap dan sopan-santun!
  5. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  6. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Ceritanya, pada hari Rabu (25/5/2016) silam, aku sama Mbah Gundul bersepeda menuju tempat bernama Watu Tumpak yang berada di Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

 

Dalam perjalanan menuju Watu Tumpak, aku sempat diajak Mbah Gundul buat nilik spot pinggir tebing yang batunya mirip kepala. Di sana kami berhenti lumayan lama buat menikmati pemandangan alam, foto-foto, sekaligus istirahat nanjak.

 

Cerita lebih lengkapnya silakan disimak pada artikel di bawah ini ya!

 

 

wujud batu besar di perbukitan Piyungan, Bantul pinggir tebing yang mirip dengan kepala hewan

 

 

Jam menunjukkan pukul 8 pagi lebih 10 menit. Perjalanan ke Watu Tumpak pun berlanjut. Jalannya tetap mengikuti jalan tanah dari pertigaan ke arah tebing yang batunya mirip kepala itu. Secara garis besar sih bersepeda menyusuri pinggir tebing.

 

Di awal ban sepeda menggelinding di tanah, Mbah Gundul sudah ngasih peringatan,

 

“Siap-siap, habis ini nanjak lagi!”

 

Duh! Nanjak Mbah!?

 

Nasib... nasib...

 

pria baju kaos hitam bersepeda di jalan setapak hutan di kawasan perbukitan Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Untungnya medan tanjakan kali ini nggak securam-semenguras tenaga seperti pada awal perjalanan. Aku sih yakin bisa melewati ini sambil tetap menunggang Selita tanpa perlu berhenti atau menuntun.

 

Tapi, pas sedang konsentrasi menanjak, Mbah Gundul yang posisinya selalu di depanku itu tiba-tiba berseru.

 

“Wis, kae ono Watu Tumpang!” [1]

 

“Hah? Watu Tumpang opo meneh Mbah? Ngendi?” [2] aku jadi kehilangan konsentrasi.

 

[1] Wis, itu ada Watu Tumpang!

[2] Hah? Watu Tumpang apa lagi Mbah? Mana?

 

 

Mbah Gundul sama sekali nggak menggubris pertanyaanku. Dirinya tetap lanjut bersepeda. Aku yang kebingungan sekaligus penasaran ditinggalkannya di tengah tanjakan.

 

Haisy! Gagal sudah usaha bersepeda nanjak tanpa berhenti!

 

obyek menarik batu bersusun bernama watu tumpang lokasi di hutan perbukitan Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Didorong rasa penasaran, aku pun mengalihkan pandangan ke rimbunnya semak-semak. Sejurus kemudian, aku lihat ada penampakan batu seperti foto di atas itu.

 

Hooo, jadi ini toh yang mungkin disebut Mbah Gundul sebagai Watu Tumpang. Jadi, ada dua batu besar yang saling menumpuk. Ini jelas fenomena alam yang entah gimana aku kurang ngerti prosesnya. Apa mungkin batu-batu unik seperti ini juga dikeramatkan oleh penduduk setempat ya?

 

Ah mbuh lah...

 

 

Puncak dari tanjakan yang nggak begitu panjang ini adalah bak penampungan air yang kali ini berukuran cukup besar. Sepertinya warga setempat mengandalkan bak penampungan air ini untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.

 

Semoga saja debit air di tampungan ini nggak surut di musim kemarau ya! Aamiin...

 

bangunan besar penampungan air milik dinas pu di perbukitan Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Aku kira selepas bak penampungan air ini jalannya sudah rata. Eh, ternyata masih nanjak! Haduw! Haduw! #nasib

 

Jadi ya dengan sangat berat hati sesekali sepeda terpaksa aku tuntun deh, hahaha.

 

Mbah Gundul sendiri sih seperti biasa. Dirinya nggak pernah sekalipun menuntun sepeda. Sepertinya, hanya Tanjakan Petir-lah satu-satunya tanjakan yang bisa bikin Mbah Gundul menuntun sepeda.

 

pria berkaos hitam bersepeda di jalan hutan lebat yang menanjak di kawasan perbukitan Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Di tengah perjalanan bersepeda nanjak ini, Mbah Gundul melontarkan ajakan,

 

“Sik Wis, mampir sediluk nang Sumur Bandung!” [3]

 

[3] Sebentar Wis, mampir sebentar ke Sumur Bandung!

 

 

Ajakan dadakan Mbah Gundul itu bikin aku semangat. Dalam bayanganku, Sumur Bandung itu berwujud tempat di mana ada air yang bisa bikin segar badan yang keletihan usai melibas rentetan tanjakan.

 

Tapi peduli amat deh, mau mata air keramat atau nggak! Kan Mbah Gundul biasa mengajak mampir ke mata air keramat.

 

bak penampungan air digunakan untuk mandi cuci kakus warga yang tinggal di perbukitan Piyungan Bantul Yogyakarta

 

“Mbah, itu Sumur Bandungnya?” tanyaku sambil menunjuk bilik bangunan putih yang ada di pinggir tebing.

 

“Udu kae! Rene o!” [4] jawab Mbah Gundul sambil memberhentikan sepedanya.

 

[4] Bukan itu! Sini!

 

 

Duh! Perasaanku kembali nggak enak! Sebab, Mbah Gundul mengajak aku buat mengusung sepeda menyusuri pinggir tebing. Apa jangan-jangan Sumur Bandung letaknya ada di pinggir tebing berbataskan jurang seperti di tebing yang batunya mirip kepala barusan?

 

Waduh! Kalau iya, uji nyali sekali berarti! #cemas

 

jalan setapak hutan menuju lokasi Situs Sumur Bandung di kawasan perbukitan Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Sambil menuntun sepeda, aku berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi semak-semak. Mbah Gundul sebagai manusia yang tahu arah jelas berada di depan. Selang beberapa saat, si Mbah menghampiri sebatang pohon kurus dan menyeru,

 

“Rene! Pit e diparkir nang kene wae!” [5]

 

[5] Sini! Sepedanya diparkir di sini saja!

 

 

Aku pun nurut omongannya si Mbah. Selita aku parkir berjejer dengan sepeda si Mbah (nggak tau nama sepedanya si Mbah ). Nggak lupa, dua sepeda itu aku amankan dengan rantai yang dikunci.

 

Tapi aku malah jadi bingung. Lha di mana Sumur Bandungnya? Di sekitar lokasi sepeda kami diparkir itu semak-semak. Sama sekali nggak ada tanda-tanda mata air. Hmmm, apa Sumur Bandung-nya itu tersembunyi di dalam semak-semak ya?

 

pria berkaos hitam parkir sepeda pohon di tengah hutan desa srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Mbah Gundul menghampiri tebing yang nggak jauh dari tempat sepeda diparkir dan berkata,

 

“Ayo manjat! Hati-hati ya!”

 

HAH? Manjat tebing!? Ya Gusti Allah... petualangan ekstrim macam apalagi di pagi hari ini...

 

Ternyata, tebing yang tingginya kira-kira sekitar 4 meter itu memiliki ceruk-ceruk yang bisa dimanfaatkan sebagai pegangan dan pijakan. Sepertinya banyak orang yang juga sering mendaki tebing ini. Makanya dibuatkan ceruk-ceruk.

 

Walaupun di tebing sudah ada ceruk-ceruk yang memudahkan aksi memanjat, ya tetap perlu berhati-hati lho!

 

pria berkaos hitam memanjat tebing menuju lokasi Sumur Bandung di desa Srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta

pelataran hamparan batu puncak tebing di desa srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta lokasi Sumur Bandung

 

Di atas tebing Mbah Gundul menunjuk ke salah satu tempat,

 

“Kae lho Sumur Bandung e!” [6]

 

[6] Itu lho Sumur Bandungnya!

 

 

Si Mbah kemudian berjalan mendekat ke lubang di pinggir tebing. Sepintas, lubang yang terbentuk di batuan beku ini memang mirip sumur. Diameternya kira-kira 2 meter. Sedangkan kedalamannya... aku belum ngecek.

 

Mbah Gundul berpendapat kalau lubang ini buatan manusia. Sedangkan aku memilih jalan tengah. Bisa jadi awalnya terbentuk secara alami kemudian dibentuk ulang oleh manusia.

 

Mbuh, yang sebenarnya gimana, hahaha.

 

pria gundul plontos botak berkaos hitam melihat lubang di perbukitan srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta lokasi sumur bandung

cerita asal-usul situs sumur bandung peninggalan sunan kalijaga di desa srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta

laporan proyek penelitian ilmiah mahasiswa ugm di sumur bandung desa srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Hanya berjarak beberapa langkah dari Sumur Bandung pertama ada Sumur Bandung kedua. Sumur Bandung kedua ini ukurannya agak lebih besar.

 

Kedua Sumur Bandung sama-sama menampung air yang berwarna kehijauan. Itu karena batuan sumur ditumbuhi lumut. Airnya sendiri berasal dari limpahan air hujan. Sebab, batuan beku seperti ini jelas nggak bisa mengeluarkan sumber mata air toh?

 

pipa pralon sumur bandung di desa srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta

ceruk batu saluran air sumur bandung di desa srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Bila diperhatikan, ada pipa pralon yang terhubung ke kedua Sumur Bandung. Aku menduga, air dari Sumur Bandung dialirkan ke bangunan putih yang fotonya aku pajang di paragraf atas itu.

 

Selain pipa pralon, terlihat juga ceruk berbentuk memanjang yang sekilas mirip saluran air. Bisa jadi, di masa silam air mengalir dari Sumur Bandung melalui ceruk tersebut.

 

umpak tiang sumur bandung di desa srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta

simbol motif kerajaan orang pembuat sumur bandung di desa srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Di dekat Sumur Bandung aku juga melihat ada obyek menarik berupa lubang-lubang kecil. Sepintas mirip lubang yang biasa digunakan untuk menancapkan tiang kayu. Mirip-mirip umpak gitu lah.

 

Kalau menurutku, lubang-lubang kecil Ini sengaja dibuat oleh manusia. Mungkin dibuatnya pada masa lampau. Bisa saja dahulunya Sumur Bandung ini dinaungi oleh semacam bangunan atau atap yang tiang-tiangnya ditempatkan di lubang-lubang kecil tersebut.

 

Masuk akal toh?

 

pemandangan alam bukit unik di kawasan sumur bandung di desa srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta

 

Tentang kenapa sumur-sumur ini disebut sebagai Sumur Bandung, aku sih menduga terpengaruh sama kisahnya Bandung Bondowoso. Kan Bandung Bondowoso itu terkenal karena membangun ribuan candi dalam sehari semalam (kisah Roro Jonggrang) toh?

 

Nah, bisa jadi Sumur Bandung ini diberi nama demikian karena diduga dibuat dalam sehari semalam. Ya ujug-ujug jadi dan ada gitu lah. Jadinya pantas toh diberi nama Sumur Bandung, hahaha. #teori.ngawur

 

 

Eh, omong-omong ini kapan sampainya ke Watu Tumpak ya kalau sama si Mbah Gundul diajak mampir-mampir terus....


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • BUKANRASTAAMAN.COM
    avatar 10933
    BUKANRASTAAMAN.COM #Senin, 10 Jul 2017, 10:13 WIB
    Kalau susmur kayak gitu bikin banyak nyamuk gak ya
    pas itu nggak terasa banyak nyamuk siy Bro
  • NUSANTARA ADHIYAKSA
    avatar 10934
    NUSANTARA ADHIYAKSA #Senin, 10 Jul 2017, 10:42 WIB
    Harus di pertahankan kearifan bersejarah ini, siapa tahu ini benar-benar bagian dari sejarah
    peradaban Dunia, wkwkkw
    Maka dari itu biarkanlah ia menyepi di pinggir tebing, hahaha :D
  • WARM
    avatar 10938
    WARM #Rabu, 12 Jul 2017, 05:38 WIB
    Nyesel jg cuma sekali pernah sepedaan sama kalian, lha destinasinya keren2 & unik2 je
    Hihihi, semoga suatu saat kita masih bisa nyepeda bareng lagi Om :D
  • BERBAGIFUN
    avatar 10939
    BERBAGIFUN #Rabu, 12 Jul 2017, 07:37 WIB
    weh kalau bening enak tuh, buat mandi mandi, heuheuheu
  • DWI SUSANTI
    avatar 10940
    DWI SUSANTI #Rabu, 12 Jul 2017, 08:52 WIB
    Itu kayanya sumur bandung tempat
    mandinya bidadari dari kayangan mas :) trs
    selendangnya tinggal dicuri :D imajinasikuu
  • JOHANES ANGGORO
    avatar 10941
    JOHANES ANGGORO #Rabu, 12 Jul 2017, 10:45 WIB
    Jadi kemungkinanya sumur itu
    dijadikan penampungan air hujan?
    Kayaknya sih memang bikinan
    manusia
  • BAGUS GOWES
    avatar 10943
    BAGUS GOWES #Kamis, 13 Jul 2017, 15:52 WIB
    Waaah.. Kangen sepedaan explore tempat2
    mblusuk. Sekarang di Surabaya gak ada
    temen gowes lagi. :(
  • BERSAPEDAHAN
    avatar 10957
    BERSAPEDAHAN #Kamis, 20 Jul 2017, 16:58 WIB
    ga apa2 penuh perjuangan tapi melihat tempat yang unik seperti ini.
    btw .... kenapa ada banyak sumur dinamakan sumur Bandung ya .... Garuk2Kepala