Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Minggu, 6 Desember 2015, 05:09 WIB

Etika Berwisata Alam

  1. Jangan buang sampah sembarangan!
  2. Jangan merusak alam!
  3. Patuhi peraturan dan tata krama yang berlaku!
  4. Jaga sikap dan sopan-santun!
  5. Jangan hanya foto-foto selfie thok!
  6. Kalau tempat wisatanya sudah ramai, jangan ke sana!

Lebih lanjut, silakan simak artikel ini.

Jam 6 pagi di hari Minggu (29/3/2015) yang cerah, bersepedalah diriku tanpa tujuan di Jl. Kusumanegara. Awalnya sih cuma mau muter-muter nyari sarapan. Tapi coba iseng-iseng SMS Mbah Gundul ah. Siapa tahu dirinya punya agenda menarik di pagi ini.

 

“ngepit ngidul seko joglo”

(artinya: bersepeda ke selatan dari joglo)

 

Balasan singkat 4 kata dari Mbah Gundul menggiringku ke Padepokan Joglo Pit di Jl. Gedong Kuning. Sampai di sana sekitar jam setengah 7 pagi. Setelah menggoyang-goyangkan pagar rumah tanpa bel, muncullah sang empunya rumah yang terlihat baru selesai mandi.

 

“Aku baru tidur jam 3. Semalam ngopi-ngopi.”

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Alhamdulillah, belum ada yang sudi mencuri sepeda kuning yang menggantung di tembok itu.

 

Sambil nunggu dirinya menyiapkan sepeda aku menyapu pandangan ke seisi joglo antik. Masih berantakan sebagaimana rumah yang dihuni pria lajang (pada umumnya) .

 

“Wah, parkitku mati!”

 

Mbah Gundul diam termenung menatap isi sangkar. Padahal katanya, kemarin masih lincah. Padahal, beberapa hari yang lalu 3 hamsternya hilang tak berbekas. Yang sabar ya Mbah! Semoga dirimu lekas mendapat penggantinya.

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Tragedi di pagi hari. Semoga dirimu tenang di alam sana ya....

 

“Jadi mau bersepeda ke mana ini?”, tanyanya

“Kalau sarapan “Terong” gimana Mbah?”

“Wah, aku pas bawa sepeda dengan gir belakang kecil e. Berat kalau dibawa nanjak.”

 

Dirinya pun berpikir sejenak.

 

“Gimana kalau nyari jalan baru yang tembus arah Mangunan?”

“Yoh! Aku manut dirimu lah Mbah!”  

 

Sepeda pun lantas dipedal menuju arah selatan. Lewat Kotagede. Lewat Pasar Ngipik. Mampir sebentar beli jajan pukis dan molen. Lanjut lewat Pleret. Lewat Segoroyoso. Habis itu belok ke jalan arah ke Srumbung. Ternyata di Jogja juga ada daerah bernama Srumbung lho, nggak hanya di Magelang thok, hehehe .

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Semoga di tahun-tahun ke depan pemandangan seperti ini masih bisa disaksikan,
nggak berubah jadi perumahan atau pertokoan.

 

Pas di Srumbung kami lewat kios pengepul burung yang ada di pinggir jalan. Wuih! Burungnya banyak banget! Bulunya warna-warni. Kicauannya ramai-ramai. Jenisnya pun macam-macam.

 

Lantas kami pun berhenti sebentar. Selain cuci mata, di sana Mbah Gundul ngasih tahu aku bedanya jalak kebo, jalak suren, jalak malaysia, dan jenis-jenis burung lainnya.

 

Aku nggak tega motret burung-burung ini. Gemas rasanya ingin membebaskan mereka semua dari kurungan sangkar. Aku yakin aksiku ini bakal diapresiasi sama para pecinta satwa. Eh, tapi nanti bisa-bisa aku malah diantemi sama yang punya kios burung, hahaha .

 

Seenggaknya, semoga di sini rasa sedih Mbah Gundul ditinggal mati parkitnya bisa sedikit terobati.

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Ternyata harga burung itu mahal juga ya. Eh, katanya salah satu indikator suksesnya orang Jawa itu punya peliharaan burung?

 

Lanjut lagi bersepeda dan tahu-tahu sudah masuk wilayah desa Wukirsari di kecamatan Imogiri, Bantul. Sempat lewat jalan yang dulu dilalui pas ke Curug Seribu Batu. Tapi kali ini ngambil cabang jalan arah ke dusun Jatirejo. Dari sini medan sudah mulai menanjak. Nggak begitu terjal sih. Tapi yang pasti, pemandangan sawahnya indah.

 

Subhanallah! Ini di Jogja lho!

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Jadi inget pemandangan di Ubud, Bali. Kalau di sana ngeliatnya Gunung Agung, di sini Gunung Merapi.

 

“Aku buang air dulu Wis.”, Mbah Gundul menyusup ke semak-semak

“Yo Mbah, aku duluan ya.”, balasku sambil lanjut nanjak

 

Belum ada 10 meter aku meninggalkan Mbah Gundul pipis, pemandangan istimewa yang aku lihat di tanjakan bikin aku teriak-teriak histeris kayak orang kesurupan.

 

“MBAH! MBAH! SINI MBAH!”

 

Mbah Gundul kaget dan tergopoh-gopoh menghampiri kawannya yang lebay ini. Untung dirinya belum sempat membuka "keran".

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Waw, ada penampakan! Jelas yang ini bukan semacam pipa air yang bocor.

 

Nggg... gimana ya caranya sampai ke sana?

 

“Ini ikutin jalannya saja Mas. Nanti ketemu pertigaan yang ada penampungan airnya. Itu masih ke atas sedikit lagi nanti ketemu rumah. Dari situ belok kanan lewat jalan kecil.”, jelas sepasang warga di pinggir jalan

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Menerjang kilau cahaya menuju ke alam lain... eh ke air terjun maksudnya.

 

Dari tadi medan jalan makin terasa lebih miring alias lebih nanjak. Aku baru ngeh. Saat ini sudah pindah wilayah ke dusun Ngliseng, desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

 

Eh, Desa Muntuk? Bukannya itu desanya Curug Banyunibo Sanggrahan ya?

 

Sepuluh menit kemudian kami sampai di pertigaan dekat penampungan air. Sebetulnya, yang menarik bukan penampungan airnya, tapi air terjun kecil di pinggir jalan. Jadinya berhenti dulu deh. Foto-foto sambil mengistirahatkan dengkul yang sudah berjuang keras melahap tanjakan.

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Pas musim hujan mendadak banyak air terjun muncul. Asal jangan jadi tenar saja.

 

Beberapa menit setelah itu barulah ketemu rumah di pinggir jalan. Di seberangnya ada jalan tanah kecil. Kata bapak penghuni rumah, ikuti saja jalan tanahnya sampai mentok. Oke deh!

 

Sepanjang perjalanan lagi-lagi kami disuguhi pemandangan indah. Kota Jogja terlihat mungil dari ketinggian! Eh, ternyata sudah bersepeda nanjak tinggi juga ya?

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Wah, sayang Gunung Merapinya tertutup awan. Jadi inget pemandangan di seberang rumahnya Pak Riyadi.

 

Jalan tanah itu mentok di rumah warga. Kaget, karena di pagi hari itu nggak hanya kami berdua yang bersepeda kemari. Ada dua pesepeda lain, Antok dan Icha, yang sedang leyeh-leyeh di serambi salah satu rumah. Katanya, sepedanya dititipkan di sini dan ke air terjunnya nanti jalan kaki masuk hutan. Ternyata mereka mampir ke sini ya juga karena di tengah tanjakan melihat air terjunnya itu.

 

Aku dan Mbah Gundul nggak langsung berangkat ke air terjun. Aku nunggu simbah merampungkan praktek pijat mengobati Mbah Sul yang kakinya keseleo dan penglihatannya terganggu glaukoma. Sambil nunggu, aku ngoceh mempromosikan kemampuan “super”-nya Mbah Gundul. Dari mulai ahli pijat, pawang gaib, sampai peracik kopi. Sorry ya Mbah kalau namamu jadi tercemar, wekekekek.

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Pesepeda merangkap tabib. Terima panggilan juga lho! Apalagi panggilan cinta. #promosi

 

Oh iya, di dekat rumah Mbah Sul itu juga ada air terjunnya lho! Sepertinya ini turunan dari air terjun yang bakal kami sambangi itu.

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Enak banget kalau punya rumah dekat air terjun begini. Kalau mau ngadem nggak perlu jauh-jauh.

 

Sekitar jam setengah 11 siang kami baru berangkat ke air terjun. Ya masuk hutan. Ya lewat jalan setapak. Jalannya nanjak dan licin banget karena semalam sempat diguyur hujan deras.

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Masuk-masuk ke dalam hutan, tinggi-tinggi sekali. #nyanyi

 

Yang paling seru itu ya pas lewat jalan dari pijakan dua kayu. Sudah kayunya licin, nggak seimbang, dan di pinggirnya persis itu jurang. Ngeri-ngeri sedap toh? Untung berbatasan sama tebing. Jadi lumayan lah bisa pegangan batu tebing yang kokoh.

 

Eh, itu sih sebelum Mbah Gundul mendadak bilang.

 

“Hati-hati Wis. Di tebing ada ularnya!”

 

...mampus guwe...

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
... dan masih sempet-sempetnya motret si ular! Kelihatan nggak ularnya?

 

Setelah 10 menit perjalanan menembus hutan, akhirnya sampai juga di lokasi air terjun yang tadi kelihatan dari jalan itu. Warga setempat menamainya Air Terjun Banyunibo atau Grojogan Banyunibo. Jadi, sudah berapa air terjun di Jogja ini yang diberi nama Banyunibo?

 

Di mana-mana air terjun itu ya selalu banyu (air) nibo (jatuh) toh ya?

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Penampakan Grojogan Banyunibo setelah didekati. Spektakuler!

 

Untuk memotret air terjun Banyunibo Ngliseng ini aku terkendala dua hal. Pertama, airnya deras banget sampai bikin kamera basah kuyup. Untung bukan air laut . Kedua, hari itu aku nggak bawa tripod. Lha niat awalnya kan cuma bersepeda nyari sarapan.

 

Alhasil, di siang hari itu nggak ada acara motret slow-speed sampai sekian detik, hahaha . Tapi yakin, Air Terjun Banyunibo sangat fotogenik... itu kalau pas ada airnya . Katanya, air terjun ini tergolong air terjun musiman. Cuma pas musim hujan thok dan cuma kalau semalam ada hujan lebat thok.

 

Kalau dibandingkan sama Grojogan Kali Bulan, air terjun yang ini “sedikit” lebih pendek, tapi lebih deras dan memukau. Sekali lagi, Subhanallah!

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Walau tanpa filter dan tripod, tukang foto berpengalaman punya segudang cara biar hasil fotonya tetap terlihat ciamik.

 

Medan jalan ke sini masih liar. Tapi nggak apa-apa. Biar air terjunnya tetap alami. Biar hanya sedikit orang yang sudi kemari. Kalau bukan pecinta alam atau orang kurang kerjaan, kayaknya nggak mungkin deh manusia-manusia gaul nan 4l4y yang hobinya selfie itu blusukan sampai ke sini, hehehe .

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Yang termasuk manusia-manusia kurang kerjaan ya duet men in black ini barangkali ya.

 

Di perjalanan pulang dari air terjun, Mbah Gundul mengajak berhenti sebentar dan memperhatikan riuh suara serangga yang bersahut-sahutan.

 

“Wis, suara serangga apaan itu?”

“Itu suara tonggeret kan Mbah?”

“Kalau bahasa Jawanya itu garengpung atau kinjeng tangis. Mereka keluar mendekati akhir musim hujan. Tandanya tiga bulan dari sekarang masuk musim kemarau.”

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Pembaca mungkin sering mendengar suaranya, tapi belum pernah lihat wujudnya kan?

 

Garengpung yang kami temui ini punya nama ilmiah Tibicen linnei. Mereka menghabiskan beberapa tahun dalam wujud larva kemudian bermetamorfosis menjadi wujud dewasa di awal musim hujan.

 

Akhir musim penghujan adalah musim kawin mereka yang ditandai dengan suara-suara nyaring itu. Yang jantan mati beberapa saat setelah kawin. Sedangkan yang betina menyusul mati setelah bertelur. Sedih ya?

 

Nggak hanya garengpung yang kawin di hari itu. Aku menangkap adegan mesra sejumlah pasangan belalang. Duh nikmatnya memadu kasih di tengah hutan yang sepi seperti ini. #eh?

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Kalau urusan yang saru-saru, mendadak indera penglihatan menjadi sangat jeli....

 

Jam setengah 1 siang kami pamit pulang sama Mbah Sul sekeluarga. Balik lagi ke jalan raya dan bingung antara mau lanjut bersepeda nanjak ke Mangunan atau turun langsung ke Pleret.

 

“Lanjut nanjak aja Mbah. Nanti turunnya lewat Cinomati.”

 

Khilaf aku! Bisa-bisanya semangat lanjut bersepeda nanjak di bawah terik matahari siang bolong. Apa mungkin karena doktrin, “Rute pulang nggak boleh sama dengan rute pergi”? Atau karena puncak terlihat sudah dekat?

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Jalan di foto ini tidak serata yang dibayangkan.

 

Apa pun itu, ternyata ruas jalan lanjutannya tergolong tanjakan jahanam. Kalau aku sih sudah jelas, mengibarkan bendera putih alias nuntun sepeda. Mau dikayuh pun percuma karena ban sepeda depan pasti terangkat. Ini kayaknya sama terjalnya dengan tanjakan Cinomati deh. Nasib... nasib....

 

Tanjakan jahanam berangsur-angsur sirna saat memasuki zona hutan pinus. Glek! Jadi ini ketinggian sudah setara Mangunan? Apa jangan-jangan ini sudah nyasar sampai Mangunan?

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Mirip hutan pinus Mangunan tapi bukan. Semoga nggak jadi ramai sama orang-orang gaul kekinian.

 

“Ini kalau mau ke Mangunan masih lurus ke sana. Kalau ke Cinomati arahnya ke sana.”, kata seorang Bapak di perempatan

 

Oh oh oh, ternyata jalan tanjakan yang kami lalui sepanjang Jatirejo – Ngliseng ini tembusnya di ruas jalan Cinomati – Mangunan. Ya sudah, kami belok saja ke arah Cinomati.

 

Ah, jadi nostalgia deh. Dulu di tahun 2010, untuk pertama kalinya aku sama kawan-kawan yang lain bersepeda pulang dari Mangunan bareng Mbah Gundul ya lewat jalur ini.

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Akhirnya sampai juga di tempat yang sudah familiar.

 

Singkat cerita, sampai di perempatan beringin Terong jam sekitar setengah 2 siang. Sebelum turun lewat Cinomati, mampir makan mie ayam dulu dekat “pos ronda super komplit” seharga Rp6.000 per porsi. Aku sampai di rumah lagi sekitar jam 3 sore.

 

Selesai sudah cerita panjang di hari ini!

 

Bersepeda ke Air Terjun Curug Banyunibo Ngliseng di desa Muntuk Dlingo, Bantul
Warung Soto Wisuda has returned?

 

Jadi tahu ada alternatif jalan ke Mangunan dan juga tahu ada air terjun di dusun Ngliseng. Oh iya, ternyata ada banyak blogger yang nulis tentang air terjun Banyunibo Ngliseng seperti Samin dan Mari Kita Dolan. Hanya saja mereka salah nulis nama dusun Ngliseng jadi Nglingseng, hehehe.

 

Jogja ternyata masih punya tempat-tempat menarik yang menanti untuk dijelajahi. Semoga saja masih tetap alami sampai selama-lamanya.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • ANIS HIDAYAH
    avatar 8813
    ANIS HIDAYAH #Minggu, 6 Des 2015, 20:47 WIB
    Salam untuk Mbah Gundul yaw mas,,, ikut bersedih hati karena burungnya mati,,, terus
    sampeyan (kamu) ki kok yow perhatian banget sama belalang, kan belalangnya bisa malu.
    Lain kali kalau ketemu belalang lagi jangan seperti itu, kasihan,,, hahaha
    Lho, belalangnya malah seneng jadi tenar di dunia maya, hahaha :D
  • SATRIO
    avatar 8814
    SATRIO #Minggu, 6 Des 2015, 22:02 WIB
    Mau kesana lagi kapan mas ?haha aku di ajak mas aku cuman tetanggamu kok mas asline
    Nyepeda yo. :D Nunggu hujan deras banget dulu.
  • NUNU
    avatar 8815
    NUNU #Minggu, 6 Des 2015, 22:29 WIB
    mungkin itu warung musiman mas
    Mosok yo ada warung musiman? Tapi aku ya penasaran sih...
  • MEINDRASET
    avatar 8816
    MEINDRASET #Minggu, 6 Des 2015, 22:48 WIB
    wah air terjun keren iki mas..air nya sudah gembrojog juga ternyata.
    kae wes terbit ngepite neng makam wingi..hehe
    woke! segera meluncur nyedot foto-fotonya, hahaha :D
  • ZAMRONI
    avatar 8823
    ZAMRONI #Senin, 7 Des 2015, 13:45 WIB
    kasihan banget burungnya mati gitu
    semoga mendapat tempat di sisi-Nya :( #eh
  • ANGKI
    avatar 8839
    ANGKI #Senin, 7 Des 2015, 19:01 WIB
    wkwkwk kejutan keren mas... duo men in black menemukan spenggal air terjun baru kece
    mas wijna.... hahaha aku termasuk yg alay selfie ra yo??? wkwkwk hadeehh mbah
    gundullllllllllllllllll yo iseh jomblo to mas?? minat PM mbak gundullllllllll
    dirimu kie blogger lebay Ngki :p
  • AZIZ RUBANGI
    avatar 8840
    AZIZ RUBANGI #Senin, 7 Des 2015, 19:35 WIB
    Wih baru mampir udah disuguhkan banyu tibo dan pemandangan yang masih aaahhh luar
    biasa indahnya...
  • FANNY FRISTHIKA NILA
    avatar 8842
    FANNY FRISTHIKA NILA #Selasa, 8 Des 2015, 10:49 WIB
    Ya ampuuun mas, berapa jam ini kamu nyepeda nya... Betismu udh kayak besi kurasa :D.. tp kalo dapat pemandangan sebagus itu, worth it lah ya... fotomu, segitu aja udh cakep.. emg perlu berguru aku )
  • HALIM
    avatar 8844
    HALIM #Selasa, 8 Des 2015, 13:48 WIB
    Hahaha di tulisan ini jadi kenal sosok Mbah Gundul. Apikk kih air terjun e, Wi. Kupikir tadi
    cerita Banyunibo punya Pacitan atau Wonogiri, jebul mung Yogya ^^
  • BERSAPEDAHAN
    avatar 8848
    BERSAPEDAHAN #Selasa, 8 Des 2015, 16:21 WIB
    wah asyikkk .... menemukan air terjun yang tidak terkenal begini .... bener2 masih asri ...

    btw.. rumahnya mbah gundul keren ya ... ada sepeda kuning di temboknya ... jadi
    terinspirasi ingin pasang pajangan sepeda di tembok rumah juga .. :)
  • SAMIN
    avatar 8849
    SAMIN #Selasa, 8 Des 2015, 16:25 WIB
    Iki nglingseng sing tak parani mbiyen dudu yo?
    hehe
  • HENDI
    avatar 8851
    HENDI #Selasa, 8 Des 2015, 18:52 WIB
    hahaha jeli banget matanya, eh lensanya
  • FEBRIDWICAHYA
    avatar 8857
    FEBRIDWICAHYA #Rabu, 9 Des 2015, 13:31 WIB
    Bang Maw :D aaaaaah selalu suka sama cerita sepedaanmu aku : harus bener-bener bisa
    sepedaan bareng kita mas :D aku udah ngantongin nomer hapemu :D
  • NBSUSANTO
    avatar 8864
    NBSUSANTO #Kamis, 10 Des 2015, 12:49 WIB
    kok apik banget yo mas.. eh, musim hujan.. bisa nih dicari.. sayangnya waktu senggang
    semakin smepit..
  • MISS RISNA
    avatar 8865
    MISS RISNA #Kamis, 10 Des 2015, 13:03 WIB
    kekagumanku akan air terjun yang mas temukan dan di belalang sirna ketika ada dua kata
    MIE AYAM. aku juk ngeleh mas ^^v
  • CICI
    avatar 8893
    CICI #Selasa, 15 Des 2015, 14:27 WIB
    Huwaaa, seru banget ngepit nya sampai Mangunan ketemu sama Air terjun. Mbolang
    dan mbelusuk bener dah sampean mas, sampe nemu tonggeret dan adegan belalang lagi
    kawin .. huwaa! Itu di foto tebing ada ularnya, yg mana ularnya eh mas? Salam dari
    Jogja jugaa :)
  • EKSAPEDIA
    avatar 8899
    EKSAPEDIA #Rabu, 16 Des 2015, 08:03 WIB
    Wah keren banget mas air terjunnya :D
  • ABI YUDHIE
    avatar 8936
    ABI YUDHIE #Rabu, 23 Des 2015, 10:52 WIB
    Wah cakep- cakep Mas :D Anti-Mainstream Destination Spot
  • YASUSPADE
    avatar 8941
    YASUSPADE #Kamis, 24 Des 2015, 14:30 WIB
    masyuuuukkkk.... nemu lagi... koe cen wangun mas... hahaha, masuk list iki
  • NDOP
    avatar 8966
    NDOP #Senin, 28 Des 2015, 23:41 WIB
    kameramu tambah apik ya hasil fotone. Opo cuma perasaanku tok ya?

    Eh, ulone gak ketok blas ik. Wernone ijo? Ulo ijo?

    Btw, jenenge kok banyunibo maneh. Koyoke kudu diatur penamaannya ben gak podo karo banyunibo liyane ya.
    Mosok? Padahal kameraku wis tanda-tanda mesti mlebu servis meneh. Ulone werno coklat garis kuning Ndop. Jeneng banyunibo kuwi tanda ra kreatif po yo?
  • RUMPUTILALANG
    avatar 9000
    RUMPUTILALANG #Sabtu, 2 Jan 2016, 13:09 WIB
    ati-ati diserbu alayers
    kebangetan nek alayers ke sini
  • HALO.INDOMIELEZAT
    avatar 9040
    HALO.INDOMIELEZAT #Jum'at, 8 Jan 2016, 09:55 WIB
    kalian berdua.....
    kok ama dirimu simbah mau foto sih ya

    kangeeeen cinomati (duh)
  • INSPIRASI BERKEBUN
    avatar 9068
    INSPIRASI BERKEBUN #Selasa, 12 Jan 2016, 08:47 WIB
    sumpah pas liat foto ular tu bingung, mana ya ularnya ?? hahahaha tersamar mas ularnya
    artikelnya menarik2 mas, saya suka bacanya