Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Selasa, 17 Desember 2013, 10:13 WIB

Jam menunjukkan pukul setengah dua belas siang sementara gerimis masih belum mau beranjak pergi dari Desa Jatimulyo di Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Hawa dingin Perbukitan Menoreh yang berpadu dengan rintik hujan semakin merangsang gemuruh suara perut. Terlebih lagi, bekal martabak asin beserta terang bulan yang kami bawa telah lama ludes saat melibas tanjakan.

 

Maka dari itu, berhentilah kami bertiga di sebuah warung makan sederhana yang berada tak jauh dari Pasar Jonggrangan. Kami disambut oleh ibu pemilik warung yang sedang menggoreng panganan. Semerbak harum gorengan menggoda kami untuk segera mencicipinya.

 

Geblek terkenal makanan khas dari Kulon Progo dikirim ke Jakarta harga grosir
Geblek kenyal dan gurih

 

Nama panganan itu cukup mengundang geli. Geblek. Panganan khas Kulon Progo ini terbuat dari tepung pati/tapioka basah. Geblek cocok disantap selagi hangat. Bila sudah dingin kekenyalannya nyaris menandingi kenyalnya ban sepeda.

 

“Hayo, tadi kamu sudah makan berapa?”, tanya Paris yang membuyarkan kenikmatanku mencomot geblek.

 

“Geblek ini satunya berapa Bu?”, tanyaku ke Ibu pemilik warung sambil mengacungkan satu bulatan geblek sebelum akhirnya masuk ke mulutku.

 

“Empat-seribu Mas, kalau yang itu tiga-seribu,” jawab sang Ibu sambil membolak-balik geblek yang sedang digoreng.

 

Geblek terkenal makanan khas dari Kulon Progo dengan isi sambal
Geblek yang diisi sambal tempe sekilas mirip cireng.

 

Yang dimaksud “itu” oleh sang ibu tak lain adalah inovasi terbaru dari geblek, yakni geblek yang di dalamnya diisi dengan sambal tempe. Geblek jadi lebih padat dan tentu berukuran lebih besar. Pantas harganya sedikit lebih mahal.

 

“Orang di sini kalau makan geblek jodohnya dengan koro benguk Mas,” lanjut sang Ibu.

 

tempe dari kacang koro benguk makanan khas Kulon Progo wilayah perbukitan Menoreh
Tempe yang terbuat dari kacang koro benguk.

 

Apa pula itu koro benguk? Oh, ternyata tempe! Bedanya tempe ini tidak memakai kacang kedelai melainkan kacang koro (Mucuna pruriens). Perbedaannya dari kacang kedelai adalah ukuran bulirnya yang jauh lebih besar. Tapi soal rasa ya sama-sama enak dan jelas bergizi. Nyam! Cocok sudah sebagai penghangat di tengah cuaca gerimis.

 

“Di sini kedelai susah dicari Mas, lebih gampang koro benguk”.

 

Sepertinya imbas nilai tukar dollar yang kian melangit membuat kedelai yang mayoritas barang impor sulit diperoleh di desa-desa perbukitan Menoreh. Bisa jadi warga tak sanggup menebus lonjakan harga kedelai dan mereka lantas berinovasi mengganti kacang kedelai dengan koro benguk sebagai bahan baku tempe. Yah, di jaman yang serba sulit ini kita memang harus pintar-pintar mengakali hidup.

 

“Oh ya, tadi pesan teh panas ya? Hampir lupa saya,” sang Ibu pun lantas berpaling sebentar dari penggorengan dan menyiapkan teh panas untuk kami.

 

Ketika sang Ibu hendak menuang air panas ke dalam gelas-gelas berisi teh, aku menjumpai keunikan yang membuatku tak ragu untuk bertanya.

 

Tiga termos unik dengan tutup bohlam dari Kulon Progo, Yogyakarta
Tiga termos bertutup bohlam dan hanya satu yang tidak.

 

“Bu, kenapa tutup termosnya bohlam?”

 

“Biar panasnya awet Mas. Di sini kan dingin, kalau masak air pagi, siang sedikit airnya sudah dingin lagi. Kalau ditutup bohlam bisa awet sampai sore”.

 

Ini unik. Berarti benar yang aku anggap selama ini bahwasanya orang Indonesia itu tidak punya aturan baku untuk menggunakan suatu benda. Misalnya ya itu tadi, lampu bohlam jadi tutup termos. Lebih bagus lagi kalau lampunya bisa menyala ya? Hahaha.

 

Jual tutup termos dari bohlam khas Kulon Progo
Apa pembaca mau mencoba di rumah?

 

Tepat sebelum kami meninggalkan warung, kami berjumpa dengan seorang simbah yang sedang merajang mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Uniknya, simbah ini juga mengasah pisaunya menggunakan genteng.

 

Inilah Indonesia, lebih tepatnya Kulon Progo. Bahwasanya hal-hal unik bisa dijumpai di sebuah warung makan yang sederhana. Perut sudah terisi, saatnya bersepeda lagi!  


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • TOTOK
    avatar 5686
    TOTOK #Selasa, 17 Des 2013, 19:21 WIB
    Mungkin kalau ditutup pakai bohlam, permukaannya yg bulat lbh menutup termos ya. Geblek kalau dingin bukan lagi kenyal, tp alot. Rahang bisa sampai pegel mengunyahnya. Btw bukannya tempe koro sdh lama ada Mas?
    Awalnya saya pikir, cara menutupnya diulir tapi ternyata cuma dimasukkan begitu saja. Geblek memang cocoknya dimakan hangat ya. Iya sih tempe koro sudah lama ada, tapi saya baru tahu kalau jodohnya itu buat makan geblek.
  • ELFRIDA CHANIA
    avatar 5689
    ELFRIDA CHANIA #Sabtu, 21 Des 2013, 07:48 WIB
    Saya belum pernah makan geblek. Malah baru denger hehe :D
    Kayak cireng mbak, tapi lebih kenyal dan besar.
  • JOGJA OUTDOOR
    avatar 5708
    JOGJA OUTDOOR #Sabtu, 28 Des 2013, 06:29 WIB
    Warung geblek yang ini alamatnya dimana mas?
    di depan pasar Jonggrangan persis Mas
  • HARIS_GREENPLATEAU
    avatar 5717
    HARIS_GREENPLATEAU #Selasa, 31 Des 2013, 16:09 WIB
    mungkin bohlamnya bisa buat meramal juga mas.
    Malah lebih mirip bohlam-bohlam yang ada di meja acara kuis di televisi.
  • ROSITA AISYAH
    avatar 5721
    ROSITA AISYAH #Jum'at, 3 Jan 2014, 19:36 WIB
    geblek itu sejenis cireng bukan sih? mirip bentuknya sama cireng di tukang gorengan, hehe
    Ada kemiripan mbak. Kalau cireng kan kecil-kecil, geblek lebih besar dan lebih kenyal.
  • RDSAPUTRO
    avatar 5722
    RDSAPUTRO #Sabtu, 4 Jan 2014, 21:14 WIB
    kui ketoke bohlame dielus elus mengko metu kilatan cahaya kae ketoke (koyo sing
    peramal) hhaha
    nek iso murup dewe kuwi luwih wangun, hahaha
  • EM
    avatar 5727
    EM #Senin, 6 Jan 2014, 22:06 WIB
    wih...bolham udah mati belum?
    cen istimewa kok kulon progo ki :D
    cen istimewa tenan... besok-besok lampu neon bulet jadi tutup blek
  • SITAM
    avatar 5728
    SITAM #Selasa, 7 Jan 2014, 10:21 WIB
    Jadi ingat waktu KKN di Kulon Progo, dikasih sajian Geblek sama warga. Kami cuma diem
    liatin makananannya. Nasibb anak laut nggak pernah tahu makanan khas sana :-D
    kok cuma dilihat? dimakan dunk! :D
  • LIANA
    avatar 5927
    LIANA #Selasa, 1 Apr 2014, 17:50 WIB
    yang geblek d isi sambal tempe namanya gembel...
    wueh... beneran itu namanya Gembel?
  • HERDINA
    avatar 6119
    HERDINA #Rabu, 28 Mei 2014, 12:59 WIB
    Itu alamatnya dimnaa????pngen kinjung dong..,.,.
    Ini di deket pasar Jonggrangan, Girimulyo, Kulon Progo mbak. Buka ini aja http://wikimapia.org/16698524/id/PASAR-JONGGRANGAN-KULON-PROGO
  • DIARYSIVIKA
    avatar 8019
    DIARYSIVIKA #Kamis, 30 Jul 2015, 16:11 WIB
    Itu beneran namanya geblek? Maklumbtakut ditimpuk
    penjualnya soalnya arti geblek dari jawa gitu deh.,,
    Iya, emang betul itu namanya geblek. Kalau di Jogja sendiri geblek itu artinya ya makanan. Geblek itu dilafalkan ge-blek, dengan ge (gendut) dan blek (blewah).
  • HASTIRA
    avatar 8024
    HASTIRA #Jum'at, 31 Jul 2015, 02:54 WIB
    wah itu termos unik banget dan geblegnya juga unik
    Iya enak Mak, makanan khas desa ini :D
  • HENDI
    avatar 8973
    HENDI #Selasa, 29 Des 2015, 08:42 WIB
    itulah kreatifnya orang kita hahahaha
  • PUJAY
    avatar 9663
    PUJAY #Senin, 9 Mei 2016, 02:00 WIB
    sebaiknya berhati-hati. Para ahli menyatakan, salah satu bahan yang digunakan bohlam dapat mengakibatkan efek yang membahayakan bagi kesehatan.
    Mereka menilai bahwa tungsten, bahan yang digunakan sebagai media untuk mengalirnya arus listrik dan mengakibatkan lampu menyala, ternyata juga berbahaya bagi lingkungan meski masih lebih berbahaya timah dan merkuri.Sebelumnya para ahli berkeyakinan bahwa tungsten jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan timbal ataupun merkuri.