Ketika mendengar ada sebuah candi berada di dekat pusat kota Yogyakarta, aku dan Andreas tertarik untuk mengunjunginya. Dan pada hari Jum’at (5/9/2008), kembali aku bersama Andreas siap melakukan eksplorasi dan kegiatan memotret candi yang letaknya tidak jauh dari ringroad utara kota Jogja. Menurut penuturan beberapa sumber, candi tersebut bertempat di Condong Catur, suatu kawasan yang masih tergolong kawasan kos-kosan mahasiswa. Candi tersebut bernama Candi Gebang.
Di Tengah Kota
Rute menuju Candi Gebang sebenarnya cukup mudah untuk dilalui. Kami berangkat dari ringroad Kaliurang menuju ke arah timur, ke arah Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta. Beberapa meter sebelum pertigaan ringroad lampu merah UPN, terdapat sebuah pertigaan yang dipenuhi papan reklame perumahan (yang terbesar adalah papan reklame perumahan Candi Indah). Bila diperhatikan di muka pertigaan tersebut terdapat sebuah papan petunjuk arah menuju Candi Gebang.


Petunjuk-Petunjuk Arah ke Candi Gebang.Ikuti jalan tersebut, melewati pasar Condong Catur, dan anda akan sampai kepada sebuah pertigaan semu yang memiliki papan petunjuk arah menuju Candi Gebang. Ikuti papan tersebut dan anda akan tiba di tugu Sleman dengan papan petunjuk arah candi. Ikuti saja arah tersebut dan anda akan sampai di Candi Gebang. Satu yang kami sayangkan adalah lokasi penempatan papan petunjuk arah candi tersebut kurang mencolok dan bahkan tertutupi oleh papan-papan reklame. Secara administratif Candi Gebang berada di Desa Gebang, Kel. Wedomartani, Kec. Ngemplak, Kab. Sleman, Yogyakarta.
Candi induk di Candi Gebang.
(Klik untuk Memperbesar)Biaya retribusi Candi Gebang sebenarnya sukarela, akan tetapi kami membayar Rp. 3000 untuk memasuki kompleks candi tersebut. Candi Gebang berlatar belakang agama Hindu, mudahnya karena di candi tersebut terdapat patung Ganesha. Satu yang membuat kegiatan pemotretan di sore hari itu tidak berjalan sesuai harapan adalah karena Candi Gebang menghadap ke arah timur! Akibatnya kami terpaksa memotret dari sisi belakang candi. Tetapi sisi depan candi pun hanya menyisakan sedikit ruang, sehingga walaupun cuaca mendukung jika memotret dari sisi depan candi juga percuma.
Hilangnya Kepala Arca

Arca Ganesha (kiri) dan Arca Nandiswara yang tanpa kepala (kanan).Candi Gebang ditemukan secara tidak sengaja pada bulan November 1936 oleh seorang petani yang sedang menggali tanah untuk mencari batu. Bukan batu bangunan yang ia dapatkan akan tetapi batu yang berwujud arca Ganesha. Setelah dilakukan penggalian lebih lanjut oleh Dinas Purbakala, di area tersebut ditemukan pondasi kaki candi. Diduga candi ini runtuh total dan terkubur di dalam tanah akibat dari letusan gunung Merapi. Diduga candi ini didirikan pada tahun 730 hingga 800 masehi. Setelah selesai dipugar pada tahun 1940, candi ini masih menyisakan bagian-bagian kosong tempat diletakkannya arca. Tidak hanya ada arca yang belum ditemukan, ada juga arca yang sengaja dicuri. Arca Nandiswara, dewa penjaga mata angin, yang ditempatkan di sisi depan candi, raib kepalanya pada tahun 1989. Di dalam candi terdapat sebuah bilik yang berisikan sebuah yoni. Candi ini tidak memiliki tangga untuk bisa masuk ke dalam bilik, sehingga saat ini jika pengunjung ingin memasuki bilik harus memanjat candi terlebih dahulu.
Kompleks Candi Gebang berukuran kecil, hampir serupa dengan kompleks Candi Kalasan dan Candi Sari. Namun dengan penataan taman serta bangku-bangku, menjadikan kompleks Candi Gebang sesuai sebagai tempat bersantai menghilangkan kepenatan. Sebuah oase di tengah hiruk-pikuknya perkembangan kota Yogyakarta.
NIMBRUNG YUK!
berhasrat pengen motret landscape. entah kenapa, yang terpikirkan pertama kali adalah
candi ratu boko. dan ternyata, hasil2 potretannya lumayan. yang pasti, aku merasa ada
nuansa mistis, terutama pada komposisi foto yang candinya diambil dari jarak jauh dan
cuma jadi POI di foto. singkat cerita, aku ketagihan motret candi.
lalu aku google, dan ketemu beberapa situs yang muat info tentang candi, termasuk
situs ini. nah, singkat cerita lagi, aku kemarin (rabu) memutuskan buat motret candi lagi.
aku baca2 tulisanmu, dan karena aku sedang agak malas, akhirnya aku putuskan buat
ke candi gebang, karena letaknya betul2 dekat. peralatan motret lengkap, seorang kawan
setuju buat ikut motret, dan pergilah kami ke gebang.
sampai di candi gebang, di bangunan kecil di dekat gerbang, ada dua orang yang jaga ini
candi. pas mau bayar retribusi (sekarang tarifnya Rp. 2000,- untuk orang dewasa dan Rp.
1.000,- buat anak2), dan karena lihat kami bawa kamera, kami malah ditanya2
pertanyaan ga penting. anda dari mana? ada keperluan apa? dari instansi mana?
blablabla. mana nanyanya pake muka ga bersahabat pula. terus terang agak emosi. tapi
akhirnya kujawab2 aja. kawanku, yang sedikit kupaksa nemani, udah mulai gerah juga.
akhirnya, setelah banyak pertanyaan ga mutu aku jawab, dua orang itu mengeluarkan
kertas yang berisikan semacam instruksi dari pemerintah daerah yang mewajibkan kami
melapor ke 3 dinas di pemkot sleman kalo mau motret ini candi. alasannya, ada
penertiban publikasi candi. aku liat di dokumen itu, dibuat tahun 2007. lah, aku bilang aja
dengan agak emosi, kawanku baru aja ke sini dan motret ini candi ga ada masalah.
jawabnya: "iya, minggu kemarin bapak kepala dinas ke sini, kasih instruksi".
wah, asu pikirku. aku tahu betul kalo udah bawa2 "bapak kepala dinas," pasti ujung2nya
minta duit. tanpa pikir panjang, aku langsung cabut dari situ. tanpa motret, tanpa sempat
liat2 candi karena terlanjur emosi, dan perasaan menyesal karena sudah sedikit
memaksa kawanku ikut motret di sini.
begitu ceritanya mas Wijna. maaf agak panjang. cuma mau kasih info aja ke pembaca
yang tertarik mau berkunjung ke sini. dan mau kasih sedikit bahan tulisan buat mas
wijna. menurutku, memang sangat perlu melestarikan sejarah. tapi masalahnya, sejarah2
itu berserakan di Indonesia, dengan sistemnya yang udah busuk di segala bidang.
pemerintah cuma becus buat birokrasi2 sulit, bahkan cuma buat memotret candi yang
toh kalo aku publikasikan, mereka dapat untung, ga harus kerja publikasi. ketika
ditanyakan mengenai situs2 purbakala yang diperjualbelikan, mereka angkat tangan. dan
karena sistemnya busuk, pemerintah busuk, maka dua orang bapak2 di candi itu jadi
ikut2an busuk juga. coba cari uang "halal" dengan "menertibkan publikasi" atas candi.
ternyata, masalah2 begini bukan cuma terjadi di tempat2 budaya di jawa aja.
sepulangnya dari gebang, aku cerita dengan kawanku yang suka backpacker kesana
kemari. katanya, ketika dia backpackeran ke sulawesi, dan ke salah satu candi (entah
apa aku lupa) di sana, dia dimintai uang pas mau ambil foto. alasannya kurang lebih
sama dengan candi gebang. kawanku ini wartawan, dan karena keberatan dimintai uang,
dia keluarkan kartu pers. orang yang minta uang langsung kecut, ga jadi minta uang.
usut punya usut, ternyata uang yang dikucurkan pemerintah, sedikit buat mereka yang
tiap hari harus bersihin candi itu. walhasil, mereka ber "eksperimen" untuk cari uang lebih
dengan minta uang dari orang2 yang motret candi.
nah, gimana tuh mas Wijna menurut anda? sori betul2 panjang aku komennya. aku
beneran emosi soalnya. hehe.
Dilematis memang...
(i.e.: kamera). Dia berseragam gak?
Memang baru sedang dibangun candinya. Mungkin ada tujuan untuk 'mengamankan'
saja. Ada beberapa orang dinas dari propinsi yang sering berlalu lalang di sana (ini kata
satpam yang jaga candi). Mungkin kalau sudah selesai dipugar, kita bisa dengan santai
menikmatinya.
Bakal sering-sering mampir ksini. Hehe. Maklum, nge-fans banget sama bebatuan....
Btw, anak UGM jg y mas? Kok kaos KKNnya sama ky tempatku :D. Salam kenal y. Kapan2 pengen mblusukan bareng.....
Ternyata ada tho plangnya,,
Jadi pengen maen ksana :D