Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Senin, 15 April 2013, 09:28 WIB

Berhubung hari Minggu kemarin (14/4/2013) adalah hari yang "spesial" bagi beberapa orang, aku mau bercerita tentang peristiwa yang terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. Tepatnya di hari Sabtu (12/6/2010).

 

Di hari Sabtu itu, jam masih menunjukkan pukul 10 pagi, yang mana sebagian kawan SPSS menganggapnya masih terlalu pagi untuk bersepeda pulang ke rumah masing-masing. Oleh sebab itu, setelah mangkuk soto wisuda yang kesekian telah licin tandas, bersabdalah Mbah Gundul bahwa dirinya punya rute bersepeda yang tak kalah menarik dari tanjakan jahanam Cinomati.

 

sarapan soto di warung soto wisuda di perempatan beringin Terong, Dlingo, Bantul
Habis sarapan soto, lanjut ke mana ya?

 

Memang, dari puncak Cinomati pilihan untuk kembali turun ke dasar adalah lewat Patuk, lewat Imogiri, atau berbalik lewat tanjakan Cinomati yang kini berubah menjadi turunan tajam. Berhubung ada prinsip “rute pulang tak boleh sama dengan rute pergi” dan didorong oleh rasa penasaran, alhasil ya dengan lugunya kami mengikuti ajakan Mbah Gundul itu.

 

Boleh dibilang rutenya memang menarik, sebab medan jalannya menurun terus. Girangnya hati kami, tak perlu lagi susah payah menerjang tanjakan. Semoga tetap seperti ini sampai menyentuh jalan raya menuju kota Jogja.

 

pesepeda menyapa siswa-siswi di Dlingo, Bantul
Setidaknya, aksi kami bersepeda juga menarik buat anak-anak.

 

Hingga tibalah kami di sebuah persimpangan jalan dengan petunjuk ala kadarnya. Berhubung Wonosari itu jauh dan Dlingo/Imogiri terlalu biasa, maka Mbah Gundul memilih arah menuju Banyu Urip. Yang dimaksud dengan Banyu Urip adalah nama suatu dusun di Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

 

papan petunjuk arah menuju sendang banyu urip di Dlingo, Bantul
Arah mana? Arah mana?

 

Di tengah perjalanan menuju dusun Banyu Urip, kami berjumpa dengan pohon jati kluwih. Ini pohon yang sangat unik dan langka, karena pohon ini... galau! Hahaha.

 

Pohon jati kluwih ini punya batang pohon jati (Tectona grandis), namun daunnya mirip daun pohon kluwih (Artocarpus altilis). He? Apakah pohon ini bermutasi?

 

Menurut referensi di internet, keanehan pohon jati kluwih ini tidak lepas dari kisah pengembaraan Sunan Kalijaga dan muridnya Sunan Geseng. Yang mana mereka berdebat menentukan “nasib” pohon tersebut apakah kelak menjadi pohon jati ataukah pohon kluwih. Apa pun kisah mistik yang melekat itu, bagi kami pohon ini hanyalah satu dari sekian obyek menarik untuk foto bareng.

 

kawan-kawan pesepeda SPSS Jogja berfoto bersama di pohon mistis Jati Linuwih, Dlingo, Bantul
Di depan pohon jati kluwih.

 

Titik akhir dari rute Banyu Urip ini adalah sebuah sendang (mata air) yang bernama Sendang Banyu Urip atau Sendang Panguripan. Keberadaan sendang ini juga tak lepas dari kisah pengembaraan Sunan Kalijaga dan muridnya Sunan Geseng. Air sendang ini dipergunakan untuk “menghidupkan” kembali Sunan Geseng dari kondisinya yang sekarat karena terbakar.

 

khasiat mata air sendang banyu urip di Dlingo, Bantul

asal-usul dan sejarah terjadinya mata air sendang banyu urip di Dlingo, Bantul
Penampakan Sendang Banyu Urip tahun 2010 silam.

 

Berhubung hari itu bertepatan dengan ulang tahun mas Arief, maka kami tidak lupa memberikan hadiah kaos “DEORE: Dengkule ora Rewel” yang disertai bonus tepung terigu, hahaha.

 

Tentu yang seperti ini sudah masuk dalam rencana busuk kami . Toh dekat dengan sendang Banyu Urip, jadi mas Arief gampang untuk bersih-bersih.

 

Arief Nugroho cukur rambut dan Anastik Wayhurini semasa muda
Semoga panjang umur mas Arief, hahaha.

 

warga memanfaatkan sendang banyu urip di Dlingo, Bantul
Air sendang ini dimanfaatkan warga juga.

 

cerita awet muda dan sehat setelah meminum air dari sendang banyu urip di Dlingo, Bantul
Jernih ya? Tapi, pas aku minum airnya malah sakit perut...doh!

 

Apa lantas kisah ini berakhir bahagia? Hahaha... TIDAK!

 

Dari Banyu Urip menuju jalan raya arah Jogja, kami harus mendaki tanjakan yang lebih jahanam dari Cinomati. Apalagi saat itu hari sudah beranjak siang dan makin panas. Inilah rencana busuk yang disiapkan oleh Mbah Gundul untuk kami. Beh!

 

Eh, tapi jangan salah! Nggak ada satu pun dari kami yang bersepeda dengan bantuan tandem dari Mbah Gundul. Tanjakan Cinomati telah mengubah kami menjadi pesepeda yang gagah perkakas, hahaha.

 

rute jalan tanjakan alternatif dari Dlingo menuju Pathuk, Gunungkidul
Ini tanjakan lho!

 

berfoto-foto di sendang banyu urip di Dlingo, Bantul
Ketemu rambu seperti ini senengnya bukan main! Foto-foto!

 

Rute tanjakan penuh penderitaan menuju Jogja ini berakhir di Jl. Wonosari, tepatnya di dekat pos polisi Patuk. Dari sana kami hanya tinggal menuruni tanjakan Patuk untuk mampir di warung mie ayam Jl. Wonosari, Piyungan demi mengisi bensin perut yang kian menipis.

 

rasarab alias iqbal khan atau anon kresek bersantap mie ayam di Piyungan, Bantul
@rasarab butuh dorongan ekstra untuk mie ayamnya.

 

Selesai!

 

Pesan moral dari kisah ini adalah, jangan pernah menyerah! Sebab kita telah terbukti, pernah, menjadi orang-orang yang tangguh dalam menghadapi penderitaan.

 

Semoga kalian hidup berbahagia selamanya!


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • INDOBRAD (KOPIMANA.COM)
    avatar 5221
    INDOBRAD (KOPIMANA.COM) #Selasa, 16 Apr 2013, 05:17 WIB
    hehehehe asyiknya bersepeda. tapi kok pemandangan terakhir mie ayam yg berenang di saus itu menyeramkan ya? :p
    Wah kalau itu karena dorongan nafsu perut, hehehe
  • ANNOSMILE
    avatar 5226
    ANNOSMILE #Jum'at, 19 Apr 2013, 09:18 WIB
    woh mas gali rasarab mangane nguli :O
    hahaha, cen wong lanang tenan og No
  • KAGUM
    avatar 5254
    KAGUM #Rabu, 1 Mei 2013, 21:25 WIB
    keren petualangannya om sampai untuk menutupi energi yg terkuras harus menghabiskan mie ayam yg banyak ya
    porsi melimpah, harganya ramah, hahaha
  • MISS RISNA
    avatar 10902
    MISS RISNA #Minggu, 18 Jun 2017, 09:16 WIB
    Kesalahan saya menemukan artikel ini adalah ketika sedang bulan puasa yang mana ending
    dari postingan ini makan mie ayam. OMG padahal baru kemarin makan mie juk pengen lagi.
    Terus itu pohonnya ajah bisa galau apalagi manusia ya .
    Hahahaha, sabar ya mbak XD