Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Minggu, 8 Juli 2012, 12:56 WIB

Sebenarnya, aku itu bukan termasuk golongan orang yang selektif untuk urusan makanan. Tapi, harus diakui ada beberapa makanan yang tidak cocok di lidahku. Misalnya saja, buah durian. Kata banyak orang, buah durian itu enak. Tapi buatku malah sebaliknya. Tercium baunya saja sudah membuat ingin muntah. >.< 

 

Ceker ayam. Jenis santapan satu ini pun sudah melekat kuat di benakku sebagai hal yang harus dihindari. Sebab, aku punya pengalaman buruk menyantap ceker ayam untuk yang pertama dan terakhir kali. Itu terjadi semasa aku KKN.

 

Rasa ceker ayam yang aku santap waktu itu ... ah ... sudahlah tak perlu dibahas...

 

Hingga di sore hari itu (28/2/2012), aku diajak menyantap ceker ayam. Siapa tahu, setelah itu aku berpeluang sembuh dari trauma menyantap ceker ayam. Seperti pengalaman di zaman dulu. Aku juga pernah trauma menyantap lele, yang pada akhirnya sembuh karena terpaksa menyantap lele, satu-satunya makanan yang disediakan panitia pameran Infotech Expo tahun 2006 silam.

 

Suasana bersantap di rumah makan Mie Ceker Bandung dengan ornamen zaman dulu di tahun 2012

 

Aku agak lega, karena ceker ayam yang disantap bukan ceker ayam thok, melainkan menjadi padanan lauk dari mie ayam. Lho? Mie ceker ayam? Ya, itulah sajian khas dan unik persembahan rumah makan Mie Ceker Bandung, yang berlokasi di Jl. R.W. Monginsidi No. 7, Jetis, Yogyakarta.

 

Jangan bayangkan rumah makan ini seperti warung pada umumnya. Mie Ceker Bandung bertempat di sebuah rumah antik, yang tentu sudah disulap menjadi cantik. Kesannya, hangat dan nostalgik. Seperti bersantap di rumah kakek-nenek. Hanya saja, karena berwujud rumah maka kapasitas meja dan tempat parkir agak terbatas.

 

Suasana dapur terbuka restoran Mie Ceker Bandung menarik perhatian pengunjung terutama wisatawan asing

 

Mie Ceker Bandung menawarkan banyak sajian mie ceker ayam. Seperti mie ceker rica-rica serta mie ceker yamin. Bilamana satu porsi mie ayam dirasa kurang, silakan pesan mie ayam satu setengah porsi untuk "tendangan ekstra" ke perut. Selain mie ayam ceker, rumah makan ini juga menyajikan nasi goreng dan cap cay.

 

Nah, bagaimana dengan harganya?

 

Rata-rata sajian mie ceker ayam dikenai harga belasan ribu rupiah. Yang termurah adalah mie ceker ayam biasa seharga Rp11.500 dan yang termahal adalah mie ceker rica-rica spesial satu setengah porsi seharga Rp20.300. Pilihan minuman cukup sederhana, seperti teh, kopi, serta aneka jus yang dihargai tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Harga-harga tersebut sudah termasuk pajak restoran.

 

Menurutku, harga yang ditawarkan sepadan dengan porsi dan suasana rumah makan. Tidak terlampau mahal, sehingga membuat dompet menyesal. Untuk paket ekonomis, aku menyarankan mie ceker ayam biasa dan teh panas, yang bisa ditebus dengan harga Rp14.300 saja. Ideal sekali untuk bersantap bersama keluarga, teman, atau kekasih tercinta, hahaha .

 

Seporsi unik Mie Ceker Bandung yang dijual di rumah makan bangunan tempo dulu di jalan rw monginsidi yogyakarta

 

Saat menegangkan pun tiba.

 

Tak berapa lama setelah memesan, datang lah satu porsi mie ceker ayam spesial seharga Rp14.400 di hadapanku. Jenis mie yang digunakan adalah mie tipis. Pelengkapnya adalah bakso, pangsit rebus, ampela, cacahan sawi hijau, ... dan tentu ceker ayam.

 

Ada rasa dag-dig-dug tatkala hendak menyuapkan potongan ceker ayam ke mulut. Takut trauma di masa lampau itu bangkit lagi. Akan tetapi akhirnya potongan ceker ayam itu pun masuk ke mulutku juga. Menyantap belalang goreng saja aku berani, masak ceker ayam tidak berani?

 

...dan rasanya...

 

ENAK!

 

Resep memasak dan mengolah ceker ayam supaya tidak amis dan enak sehingga cocok menjadi teman bersantap di mie ceker bandung, Yogyakarta

 

Satu yang pasti. Tetap ada rasa khas ceker ayam (susah untuk dijelaskan), yang membuat trauma itu bergejolak untuk bangkit. Tetapi mie ayam itu (beserta ceker ayamnya) ludes juga, hehehe .

 

Dengan demikian trauma menyantap ceker ayam dinyatakan sembuh!


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • AULIA FASYA
    avatar 5918
    AULIA FASYA #Minggu, 30 Mar 2014, 14:00 WIB
    Kalau saya sih gak trauma sama ceker ayam ataupun lele, tapi emang gak suka gara-gara
    liatnya jijik hahaha
    Makannya sambil tutup mata mbak. Pura-pura nggak tau klo yang dimakan itu ceker ayam atau lele. :D