Curug Terindah di Gedangsari

Mentari pagi dan langit biru mengawali hari raya Imlek 2563 yang jatuh pada hari Senin 23/01/2012. Ketika sebagian saudara kita tengah berkumpul di klenteng dan vihara untuk beribadah, maka kami–Aku, Paris, dan Pakdhe Timin–meluangkan waktu untuk bersepeda sekaligus berwisata. Tujuan kami sebuah air terjun yang terletak di Desa Tegalrejo, Kec. Gedangsari, Kab. Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Kawan bertualang di hari Imlek 2563. Hanya sepedaan biasa, bukan SPSS atau PEKOK. :p
Ke Gunung Kidul Lewat Klaten
Sekitar pukul 8 pagi kami berkumpul di Indomaret di tepi Jl. Jogja-Solo yang tak pernah sepi dari deru kendaraan bermotor. Pakdhe Timin, dengan berbekal GPS dari smartphone LG Optimus, bertindak sebagai pemandu arah. Titik tujuan kami yang pertama adalah Kec. Bayat, di Kab. Klaten.
Mungkin banyak orang akan mengira, menuju suatu wilayah di Gunung Kidul adalah wajib hukumnya untuk melalui Jl. Wonosari yang mengarah ke Pathuk hingga Wonosari. Jangan salah. Kec. Gedangsari, tepatnya Desa Tegalrejo, terletak tepat di perbatasan DIY – Klaten. Lokasi tersebut lebih “manusiawi” bila ditempuh melalui Jl. Jogja–Solo yang relatif datar dan landai dibandingkan Jl. Wonosari.
Alhasil, sepeda pun kami pacu menuju arah timur. Oleh sebab kami menganut paham “rute pergi harus berbeda dengan rute pulang”, maka setibanya di Prambanan, kami mengambil rute jalan desa. Kami menyusuri kaki perbukitan Pereng, dikelilingi hamparan sawah yang menghijau. Melewati Gantiwarno, Wedi, hingga tiba di Bayat.

Gapura di Desa Tegalrejo menuju Curug Indah Gedangsari
Di Ujung Timur Yogyakarta
Selanjutnya adalah menuju Desa Tegalrejo. Kami sempat kebingungan, karena sebagian besar jalan yang kami lalui bukan jalan besar. Syukur, kekhawatiran kami sirna tatkala melihat rambu-rambu arah menuju SMPN 2 Gedangsari. Sebab SMPN 2 Gedangsari ini juga terletak di Desa Tegalrejo.
Di dekat sebuah gapura besar, kami berhenti di sebuah warung. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Teriknya matahari membuat kami haus, apalagi semenjak berangkat kami sama sekali belum sarapan. Jadilah kami singgah untuk mengisi perbekalan. Dari Ibu pemilik warung (yang keheranan melihat kami bersepeda ke sana) kami memperoleh informasi bahwa air terjun yang kami cari hanya berjarak sekitar 1 km lagi.
Wah, sudah dekat rupanya pembaca!

"Ini masih DI Yogyakarta kok Mas, cuma di ujung paling timur" kata Ibu pemilik warung.
Betul saja, tidak berapa lama tibalah kami di kantor Desa Tegalrejo. Di tengah membaranya kayuhan sepeda kami untuk segera tiba di air terjun, beberapa aparat desa tiba-tiba mencegat kami. Oh, rupanya mesti membayar retribusi dulu, hehehe. Di karcis yang diberikan tertera tarif retribusi per orang Rp 1.500. Namun kami ditarik biaya Rp 5.000 untuk 3 orang. Kesimpulannya? :p

Jangan lupa bayar retribusi kalau nggak mau dikejar-kejar orang sekampung :D
Berhubung air terjun sudah di pelupuk mata dan perut yang sedari tadi meronta-ronta minta diisi, mampirlah kami ke angkringan di dekat kantor Desa Tegalrejo. Sepanjang jalan yang kami lalui jarang ada warung makan. Yah, mungkin karena kami melewati jalan desa yang mayoritas dikelilingi sawah. Jadi pesan saya kepada pembaca yang hendak berkunjung kemari, isi perbekalan dulu sebelum berangkat, atau bersantap dulu di kota Gantiwarno, Wedi, atau Bayat.

Kalau pembaca ingin ke kamar kecil, minta kunci kamar kecil di Ibu Angkringan ini ya.
Juga, berhubung kami berkunjung di hari raya Imlek yang sudah ditetapkan menjadi hari libur nasional, alhasil banyak sekali pengunjung yang datang. Umumnya adalah pasangan muda-mudi. Wajar saja bila tempat parkir terlihat penuh. Oh ya, tarif parkirnya adalah sebesar Rp 1.000 per sepeda. Entah berapa biayanya untuk sepeda motor.

Sepeda boleh dibawa masuk, tapi ya silakan nikmati medan jalan seperti ini.
Curug Indah Gedangsari Milik Pribadi
Mitos hujan lebat di hari Imlek sepertinya tidak tepat lagi disebut mitos. Sebab dari pengalamanku memang selalu terjadi. Begitu pula di hari itu. Kami harus menerima nasib kehujanan di tengah jalan. Tidak ada tempat berteduh. Jikalau ada, mayoritas sudah dihuni oleh pasangan muda-mudi. Alhasil, kami harus menerapkan ilmu bertahan hidup, membuat bivak ala kadarnya dari jas hujan yang dibawa Pakdhe Timin. Sayang tidak sempat diabadikan dalam foto, hehehe. :)

Jalan menuju air terjun terhalang oleh danau kecil ini, ...

... jadi kami harus mengambil jalan memutar danau dan terpaksa masuk ke semak-semak.
Untung, hujan hanya berlangsung sekitar setengah jam saja. Efek sampingnya, banyak pengunjung yang memutuskan untuk pulang karena basah kuyup, hahaha. Air terjun bakal jadi "milik" kami pribadi nih! :D
Air terjun ini dikenal sebagai Curug Indah, Curug Gedangsari, atau Air Terjun Gedangsari. Lokasi wisatanya sendiri dikenal sebagai Taman Wisata Curug Gedangsari. Kabarnya lokasi ini sebenarnya milik perseorangan yang kemudian dikelola bersama oleh warga desa. Seperti yang nampak di papan larangan yang ada di gerbang masuk. Memberi pesan bahwa siapapun yang berkunjung ke lokasi wisata ini harus mengantongi ijin (yakni dengan membayar retribusi :p) karena lokasi ini termasuk pekarangan rumah warga. Ya toh?

Kira-kira pembaca mengartikan larangan tersebut sebagai apa?
Kotor oleh Sampah :(
Sayang seribu sayang, perihal sampah tidak tercantum di papan larangan! Asal pembaca tahu, lokasi di sekitar air terjun benar-benar tercemar sampah! Dari mulai kemasanan makanan hingga pembalut wanita (weleh). Benar-benar menganggu kenyamanan kalau mau berenang di air terjun ini. Kami sempat berbaik hati mengumpulkan sampah demi sampah yang kami temui. Ternyata terkumpul satu tas plastik penuh!

Sampah yang bisa terkumpul jauh lebih banyak dari ini
Bila pengelola tempat wisata ini memang berniat untuk merawat dan memelihara, hendaknya di beberapa sudut disediakan tempat sampah. Jangan hanya bersandar pada pengelolaan pariwisata ala kadarnya, dengan hanya mementingkan arus kas masuk dari pungutan retribusi. Apalagi lokasi wisata ini kan kabarnya milik pribadi, jadi alur birokrasinya pasti tidak serumit pengelolaan pariwisata di bawah naungan pemerintah.

Lokasi favorit muda-mudi untuk memadu kasih.

Menyusuri tepi sungai untuk sampai ke air terjun.
Bila pembaca berkeinginan untuk singgah di Curug Indah Gedangsari ini sebaiknya pada musim-musim penghujan yang tidak terlampau penghujan (eh?). Sebab, debit airnya akan surut tatkala memasuki musim kemarau hingga tak tampak seperti air terjun. Jika memasuki musim penghujan lebat, dikhawatirkan debit airnya terlampau deras dan airnya akan berubah warna menjadi coklat-keruh.
Rute Singkat ke Curug Indah Gedangsari
Bagaimana pembaca? Siap untuk menjelajah ke Curug Indah Gedangsari? Air terjun ini dekat dengan Luweng Sampang yang fenomenal itu lho. Keduanya berada di Kec. Gedangsari.

WAJIB MBLUSUK INI!
Berikut adalah panduan rute menuju Curug Indah Gedangsari melalui Jl. Jogja–Solo yang nyaman bagi kendaraan bermotor.
- Dari Jogja, ikuti Jl. Jogja–Solo hingga tiba di Kota Klaten (sekitar 30 km)
- Dari Kota Klaten arahkan kendaraan ke selatan menuju Makam Sunan Pandanaran di Paseban, Bayat (serupa dengan arah menuju Sentra Gerabah di Desa Melikan, Wedi).
- Memasuki kota Bayat, arahkan kendaraan menuju Kantor Kec. Bayat.
- Dari Kantor Kec. Bayat ikuti jalan berwarna merah pada gambar ini hingga tiba di Curug Indah Gedangsari.


















NIMBRUNG YUK!
longsor ya?
kapan2 pada maen nanti maen kerumahku di desa Mawen, Wedi, Klaten.
hahahaha.....
wah wah wah enak sekali dapat akomodasi gratis dari mas Satia :D
lha kapan? ayuk bro! :D
blom nemu curug yg paling tinggi..
ini arahnya ke atas atau ke bawah bro?
tingkatan air terjun yang ini..yg paling tinggi malah belum nemu karena udah kesorean dan
sepi..sebelah mananya?
Mungkin karena sewaktu aku datang curah airnya melimpah jadi terlihat berbeda.
biaya Rp 5.000 untuk 3 orang. Kesimpulannya?
"ben rasah nyusuki"
kalau bisa tolong kasih tahu saya ya please...
ni nomor saya 085715670260