Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Kamis, 5 Mei 2011, 15:47 WIB

Sebelum aku bercerita, aku minta tolong ke Pembaca sekalian untuk mencermati foto yang tampil di bawah ini.

 

foto kenangan zaman dulu di bekas Stasiun Medari di Mlati, Yogyakarta. Stasiun Medari saat ini digunakan sebagai bangunan posyandu. Dahulu kala penumpang yang naik dari Stasiun Medari kebanyakan adalah para pedagang.

 

Sudah?

 

Bilamana Pembaca mencari-cari kejanggalan pada foto di atas bisa jadi nggak akan ketemu. Sebab, memang nggak ada yang janggal dengan foto tersebut, hahaha.

 

Ah, mungkin Pembaca kemudian bertanya,

“Lalu apa? Kenapa kalian berfoto di sana?”

 

Dan aku jawab,

“Kami berfoto di bekas stasiun kereta api.”

 

Sebelum Pembaca tambah bingung, ini lho bangunan bekas stasiun kereta apinya.

 

Bangunan bekas Stasiun Medari, salah satu bangunan stasiun di jalur kereta Yogyakarta - Secang yang masih tersisa utuh. Zaman dulu bangunan Stasiun Medari terbuat dari kayu, namun terbakar, dan dibangun kembali dari batu bata.
Apa bisa dibayangkan kalau dahulu ada kereta api yang berhenti di sini?

 

Bekas plakat nama stasiun di bekas bangunan Stasiun Medari di Caturharjo, Sleman, Yogyakarta. Stasiun Medari memiliki kode MDI dan merupakan stasiun yang paling sering disinggahi oleh pedagang.
Sisa-sisa bekas tempat plakat nama stasiun.

 

Bangunan berwarna hijau itu dahulu adalah stasiun kereta api. Namanya Stasiun Medari. Letaknya ada di Dusun Medari, Kelurahan Caturharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Lumayan dekat dari Jl. Magelang.

 

Bangunan bekas Stasiun Medari tergolong beruntung karena hingga saat ini masih bisa kita saksikan berdiri utuh. Bangunan bekas Stasiun Medari saat ini difungsikan sebagai posyandu.

 

Dulu, Jalur Kereta Api di Yogyakarta itu Banyak

Jalur kereta api yang saat ini menghubungkan Yogyakarta merupakan jalur lama peninggalan Belanda. Dahulu kala, selain jalur kereta api Kutoarjo – Purwosari (barat – timur), Yogyakarta juga memiliki beberapa jalur kereta api lain. Salah satunya adalah jalur kereta api Yogyakarta – Secang (utara) yang sebagian besar melintasi Kabupaten Sleman.

 

Jalur kereta api Yogyakarta – Secang merupakan jalur kereta api yang menghubungkan Kota Yogyakarta, Kota Magelang, dan Kota Semarang. Jalur ini dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda, NIS (Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij) yang dimulai pada tahun 1898 dan berakhir pada tahun 1905. Taruna Ekspres dan Borobudur Ekspres adalah nama-nama kereta populer yang dahulu kala meramaikan jalur ini.

 

Sayang, popularitas jalur kereta api Yogyakarta – Secang meredup di kurun tahun 1970-an. Penyebab utamanya adalah populasi kendaraan bermotor pribadi yang kian meramaikan jalan raya. Akhirnya, jalur kereta api Yogyakarta – Secang secara resmi ditutup di tahun 1976 dan menjadi salah satu jalur mati yang kini "menghantui" Yogyakarta.

 

Bersepeda Menyusuri "Bangkai" Jalur Mati Kereta Api

Di hari Sabtu (30/4/2011), aku beserta kawan-kawan SPSS menggelar agenda bersepeda pagi menyusuri jalur kereta api Yogyakarta – Secang. Berhubung namanya juga bersepeda santai, kami nggak bersepeda sampai Secang lho! Hanya di seputar wilayah Kabupaten Sleman yang dahulu pernah dilalui oleh jalur kereta api.

 

Taman kota yang berada di Pangukan dahulunya adalah lintasan rel kereta api. Hal ini bisa diamat dari kelengkungan jalan yang tidak terlalu menikung.
Dari lengkungnya, taman di Pangukan ini dahulu adalah rel kereta api.

 

Sumur tua yang nampak tidak terawat ini merupakan satu-satunya bukti keberadaan Halte Pangukan. Dahulu kala sumur ini digunakan untuk mengisi air lokomotif dan juga minum bagi kuda-kuda delman pengantar jemput penumpang kereta.
Sumur tua ini sepertinya dahulu kala merupakan bagian dari Halte Pangukan.

 

Dari apa yang kami jumpai, jalur kereta api Yogyakarta – Secang benar-benar mati nyaris tanpa menyisakan bangkai. Berbagai stasiun kini sudah beralih fungsi. Misalnya saja Stasiun Kutu yang menjadi Kantor TVRI dan Stasiun Beran yang menjadi markas Koramil. Bekas rel kereta yang beberapa tahun yang lalu katanya masih bisa terlihat dari pinggir jalan raya kini sudah benar-benar menghilang.

 

Stasiun Beran di jalur Yogyakarta - Secang kini beralih fungsi menjadi markas Koramil. Kabarnya, suara kereta api dan bunyi mesin pemindah rel (wesel) masih sering terdengar di tengah malam.
Stasiun Beran yang jadi markas Koramil. Alat pemindah rel (wesel) dipajang sebagai memento.

 

Tapi bersyukurlah, masih ada sisa-sisa peninggalan jalur mati yang bisa kami jumpai. Seperti misalnya bekas bangunan Stasiun Medari di atas itu dan juga Jembatan Pangukan yang membentang di atas Kali Bedog. Di sejumlah tempat di sepanjang perjalanan, beberapa kali aku sempat merasakan "aura" bahwa dahulu kala di jalan yang aku lintasi ini adalah lintasan jalur rel kereta api.

 

Jembatan Pangukan merupakan salah satu sisa kejayaan jalur kereta api Yogyakarta - Secang yang berhenti beroperasi pada tahun 1976. Jembatan Pangukan dirancang dengan teknlogi mutakhir yang meminimalkan dampak beban berat kereta yang melintas di atasnya.
Jembatan Pangukan yang masih kokoh berdiri.

 

Rel yang berada di Jembatan Pangukan sudah terputus. Padahal, rel tersebut dibuat dari material berkualitas tinggi untuk menahan beban berat kereta api yang melintas di atasnya.
Coba Pembaca perhatikan ujung rel yang melintasi Jembatan Pangukan sudah putus.

 

Isu Revitalisasi Jalur Mati yang Sempat Berhembus

Rencana untuk menghidupkan kembali jalur kereta api Yogyakarta – Secang sempat berhembus. Tapi hingga saat ini, rencana hanya sebatas wacana. Menghidupkan kembali jalur mati membutuhkan upaya dan juga dana yang nggak sedikit. Khususnya terkait dengan pengadaan infrastruktur dan alih fungsi lahan.

 

Kita semua tahu bahwa bertambahnya jumlah kendaraan bermotor tidak berimbang dengan penambahan ruas jalan. Oleh sebab itu, transportasi publik semacam kereta api yang memiliki kapasitas angkut besar merupakan suatu keharusan.

 

Sayangnya, kita acap kali terbuai dengan kenyamanan kendaraan pribadi. Sesuai hukum pasar, kalau ada yang lebih nyaman, mengapa memilih yang lebih buruk?

 

Jembatan Pangukan sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 2008. Namun hingga saat ini Jembatan Pangukan nampak usang dan tidak terlihat adanya perawatan yang signifikan.
Jembatan Pangukan Sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya.

 

Hingga detik ini, kita tahu bahwa kenyamanan transportasi publik masih jauh dari harapan. PT Kereta Api pun nampak masih memiliki banyak pekerjaan rumah terkait dengan kualitas layanan kereta api.

 

Padahal, dari sisa-sisa peninggalan jalur kereta api, menurutku infrastruktur yang ada masih dapat dipergunakan asalkan dirawat dengan baik. Seperti Jembatan Pangukan yang memiliki teknologi penahan beban yang mutakhir. Nggak ada jembatan lain di Indonesia yang memiliki teknologi seperti itu. Sepertinya, NIS nggak main-main dalam merancang konstruksi jalur kereta apinya untuk masa operasi yang lama.

 

Teknologi roda roll yang ada di sisi barat Jembatan Pangukan merupakan teknologi yang diterapkan pada jembatan untuk mengurangi dampak dari beban berat yang melintas di atas jembatan.
Teknologi roda roll pada Jembatan Pangukan untuk menghindari dampak kelebihan beban.

 

Namun itu semua kemutakhiran itu harus punah karena tuntutan ego manusia. Seperti KA Parahyangan yang punah karena adanya ruas Tol Cipularang. Di moda transportasi lain, kita pun tahu banyak maskapai penerbangan yang berguguran. Transportasi publik kita tengah berada di ujung tanduk.

 

Dahulu kala di Dusun Ganjuran sering sekali ada warga yang tertabrak kereta api yang melintas di malam hari karena di sana minim penerangan. Karena itu kemudian dibangunlah viaduk Ganjuran agar warga tidak perlu melintasi rel kereta api lagi.
Di bekas viaduk (underpass) Ganjuran, perlintasan kereta di atas jalan umum.

 

 

Perjalanan kali itu cukup membekas di pikiranku. Pelan-pelan aku kayuh sepeda, pulang ke rumah.

 

Bilamana kereta api dan pesawat yang notabene berteknologi tinggi bisa berguguran, bagaimana kelak dengan nasib sepeda? Akankah punah juga?


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • BEJOKAMPRET
    avatar 3840
    BEJOKAMPRET #Kamis, 5 Mei 2011, 16:29 WIB
    pertamax maninggg...asyiikk..
    Haisy!
  • NYUNS
    avatar 3841
    NYUNS #Jum'at, 6 Mei 2011, 12:02 WIB
    semakin tinggi keinginan numpak sepur... jesjesnguk...jesjesnguk...
    Mesakne Magelang wis ora ono sepur...
  • PEIN
    avatar 3842
    PEIN #Jum'at, 6 Mei 2011, 20:17 WIB
    Hm, di Yogyakarta emang banyak stasiun yg udah mati, di seputaran tengah kotanya ada bekas stasiun yang menjadi warung soto, mungkin mas wijna bisa mengok atau melihat bekas stasiun Kalasan ^^

    Di kotaku juga ada, bekas relnya masih terlihat di beberapa titik di sepanjang jalan raya besar, stasiunnya udah jadi pesar besar....
    Ha? Emang di Kalasan ada bekas stasiun juga pow?
  • SANDALIAN
    avatar 3848
    SANDALIAN #Senin, 9 Mei 2011, 10:55 WIB
    Kereta api dan pesawat adalah sarana angkutan umum, penyelenggaranya memikirkan profit saat mengadakan layanannya. Kalau profitnya kurang, mending ditutup.

    Kalau sepeda saya rasa berbeda. Bukan karena beda teknologinya, tetapi karena sepeda adalah angkutan individual. Selama masih ada yang suka, ketoke akan tetap jaya di jalanan.
  • ANNOSMILE
    avatar 3851
    ANNOSMILE #Senin, 9 Mei 2011, 12:17 WIB
    gowes terus neh brooo..mantap
    Mumpung isih kuat No :p
  • RIZKI
    avatar 3852
    RIZKI #Senin, 9 Mei 2011, 12:39 WIB
    Wah ternyata di Yogyakarta banyak jalur kereta api yg sudah mati,,,mau tnya nih,,,pstinya mas pernah lewat jl.mangkubumi,jl.Malioboro...nah kan dijalan itu gak rata tuh kaya ada batu yang gerinjul2..itu bekas rel kereta api bukan ya mas?
    Hah? Kalau Jl. Mangkubumi - Jl. Malioboro nggak dilewati sama jalur kereta api.
  • ASOP
    avatar 3854
    ASOP #Senin, 9 Mei 2011, 20:04 WIB
    Wow... itu jalur pejalan kaki di taman Pangukan enak tuh dibuat lari pagi. :D
    Jalur seperti itu ada berapa meter panjangnya, Mas? :)
    Mungkin ada sekitar 50 meter Kang
  • SUKE SEMARANG
    avatar 3855
    SUKE SEMARANG #Senin, 9 Mei 2011, 22:38 WIB
    ajib ajib teru gowes terusss, hua melu....
    lha kapan dirimu meh ng Jogja je oM?
  • OMIYAN
    avatar 3857
    OMIYAN #Selasa, 10 Mei 2011, 15:20 WIB
    perlahan tapi pasti sebuah tempat akan beralih fungsi karena kepentingan jaman yang serba menuntut
    iya ya oM, semua benda-benda bersejarah tinggal menunggu waktu untuk musnah...
  • HARGA HOTEL INDONESIA
    avatar 3859
    HARGA HOTEL INDONESIA #Selasa, 10 Mei 2011, 17:54 WIB
    Saya baru tahu kalo di Sleman ada stasiun lawas
    Wah kemana saja dari dulu Om? :D
  • VIZON
    avatar 3865
    VIZON #Jum'at, 13 Mei 2011, 10:08 WIB
    Kalau Sleman punya stasiun dan masih kelihatan bekas-bekasnya sampai sekarang, kemungkinan di Bantul juga ada ya Wij? Soalnya, di depan rumahku masih ada tuh bekas relnya...

    Sepeda tetap dibutuhkan sampai kapanpun Wij. Tenang aja... Paling tidak, untuk bersantai dan berolahraga, hehehe... :)
    Di Bantul mestinya masih ada Uda.
  • AGUNGDY
    avatar 3898
    AGUNGDY #Rabu, 25 Mei 2011, 13:18 WIB
    Jembatan Pangukan & Taman pinggir jalan bekas Rel sepur ....siippp
    Dekat rumahku :)
    kapan-kapan mampir boleh dunk Kang :D
  • ANIE_PANGUKAN
    avatar 3899
    ANIE_PANGUKAN #Rabu, 25 Mei 2011, 13:29 WIB
    waa...itu kampungku lho sista n brada :) Pangukan Tridadi Sleman...rumahq juga eprsis di atas rel yg blm di lepas :D
    hahaha, hidup Pangukan! :D
  • NUGROHO
    avatar 3901
    NUGROHO #Rabu, 25 Mei 2011, 15:00 WIB
    pangukan emang oke, apalagi jembatane masih asli.....!!!!
    hahaha! ayo kita jaga jembatan Pangukan!
  • ANTONI
    avatar 3902
    ANTONI #Rabu, 25 Mei 2011, 21:35 WIB
    pangukan poenya..
    hidup Pangukan! :D
  • RITA
    avatar 4126
    RITA #Jum'at, 12 Ags 2011, 11:22 WIB
    jembatan'nya kaya udah tua ????
    tapi masih kokoh berdiri :p
    ooo jelas tua, peninggalan Belanda itu mbak, semoga PT KA senantiasa merawat agar tetap utuh :)
  • RITA
    avatar 4159
    RITA #Senin, 15 Ags 2011, 11:55 WIB
    iya, senantiasa merawat supaya peningalan belanda itu tetap bisa di jumpai oeh anak cucu kita .... :)
    betul mbak :)
  • LA RAILFANS TAKSAKA
    avatar 4391
    LA RAILFANS TAKSAKA #Sabtu, 17 Des 2011, 07:12 WIB
    mas izin saya upload ulang buat arsip di fb entar saya tampilkan sumbernya
    oke, sip! :)
  • KOMUNITAS BARAT
    avatar 4532
    KOMUNITAS BARAT #Kamis, 5 Apr 2012, 00:33 WIB
    Wah, saya baru tahu kalau Bekas Stasiun Sleman sekarang jadi Koramil
    Saya juga baru tahu pas ke sana Kang
  • GUE
    avatar 4638
    GUE #Jum'at, 1 Jun 2012, 17:11 WIB
    gabung gan .. Btw, ini grup sepeda yang suka sepur ato suka sepur tapi pake sepeda. sya suka dua2nya. di boyolali situs sepur dah minim. tolong deh fotonya di tambahin, siapa tahu bisa k sana.
    Ini kebetulan aja rute sepedaannya menyusuri rel sepur tua.

    Oke deh, nanti kalau kami nyepeda menyusuri rel sepur lagi bakal ditambahkan foto-fotonya :)
  • BAMBANG PARMADI
    avatar 4761
    BAMBANG PARMADI #Jum'at, 10 Ags 2012, 18:56 WIB
    bukannya medari itu kelurahan triharjo kec.sleman ya mas.. ?
    Hah? iya po?
  • FERRY_MEDARI
    avatar 4861
    FERRY_MEDARI #Minggu, 28 Okt 2012, 08:26 WIB
    Nek jalur Kereta Api dihidupkan lg banyak warga yg punya rumah dijalur rel akan
    digusur,,termasuk saya,,,Dilema
    betul, dilematis...
  • PURWANTO
    avatar 4967
    PURWANTO #Senin, 31 Des 2012, 21:13 WIB
    Di kampungku di muntilan juga masih bisa di temukan ialurkereta mati, yang paling terlihat jelas adalah sebelah timur pabrik kertas blabak masih terdapat sebuah stasiun kecil namaya stasiun"Blabak" yang masih kokoh berdiri namun saya pernah mendekati agaknya kurang terawat karena dijadikan pangkalan angkudes untuk ngetem dan tempat vandalism oknum pelajar disana. Ayo ada yang mau buat event disana ????????
    betul, di dekat Pasar Blabak juga ada satsiun kecil. Dulu sebelum ada pelebaran Jl. Magelang, bekas relnya masih nampak jelas. Sekarang sih seperti tinggal menunggu rubuh saja >.<
  • FACHMI
    avatar 5322
    FACHMI #Jum'at, 31 Mei 2013, 14:59 WIB
    menyenangkan sepertinya kalau stasiun ngabeyan dan jalur rel mati berfungsi hingga
    sekarang. kita bisa ke malioboro tidak harus lewat tugu tapi bisa turun di stasiun
    ngabeyan...
    Iya ya Kang, tapi mau gimana lagi, kereta api sudah KO duluan sama kendaraan bermotor terutama sepeda motor. Bentar lagi bus kota juga bakal KO.
  • KI DARPO
    avatar 8812
    KI DARPO #Minggu, 6 Des 2015, 10:51 WIB
    lestarikan ...bernostalgia..!
    wokey sip mbah!