PEKOK ke Gua Maria Tritis

Setiap ekspedisi PEKOK Ranger, selalu dilatar-belakangi oleh suatu misi tertentu. Kali ini, PEKOK Ranger mengusung misi Pakdhe Timin untuk ziarah ke Gua Maria dan yang terpilih adalah Gua Maria Tritis di dusun Bulu, desa Giring, kec. Paliyan, kab. Gunung Kidul, DI Yogyakarta.
Gua Maria adalah tempat ziarah umat katolik yang tersebar di penjuru dunia. Sejarah Gua Maria berawal dari Lourdes, Perancis ketika Bernadette Soubirous berjumpa dengan penampakan Bunda Maria di sebuah gua. Sedangkan Gua Maria di Indonesia sendiri umumnya berupa tempat ziarah yang sarat makna historis. Informasi lebih lanjut, silakan dibaca di situs wikipedia ini yah :)

Saat masih kompelit, di pertigaan Sambipitu.
Yang berpartisipasi di ekspedisi PEKOK kali ini ada Pakdhe Timin, Angga, Vendy, Rizky, dan Yudhis. Dua orang adik angkatanku, Ari dan Yacob, sempat ikut namun memutuskan pulang selepas hutan Wanagama.
Secara umum, rute perjalanan kami serupa dengan rute saat kami nyepeda menuju Pantai Ngrenehan. Karena sudah pernah melalui rute ini, aku sudah tahu kalau akan ada banyak tanjakan menanti, hehehe.
Etape 1, Jogja – Pasar Piyungan (16 km)
Etape 2, Pasar Piyungan – Pathuk (4 km, Tanjakan)
Etape 3, Pathuk – Lapangan Gading (15 km)
Etape 4, Lapangan Gading – Paliyan (12 km)
Etape 5, Paliyan – Telaga Namberan (6 km, Tanjakan)
Etape 6, Telaga Namberan – Gua Maria Tritis (8 km, Turunan)

Lewat Telaga Motoendro yang kini banjir. Coba bandingkan deh dengan foto yang kujepret saat ke Ngrenehan dulu.
Akses menuju Gua Maria Tritis terletak pada ruas jalan menuju Pantai Baron. Jangan khawatir bakal terlewat, sebab di sepanjang jalan banyak terdapat papan penunjuk jalan yang mengarah ke tempat ziarah ini. Dari tempat parkir menuju Gua Maria, pengunjung harus berjalan kaki dengan jarak sekitar 1 km melalui jalan salib.
Gua Maria Tritis ini dibangun pada tahun 1974. Oleh masyarakat sekitar, dahulu kala gua ini terkenal angker dan kerap dijadikan tempat bersemedi. Kini setelah gua dibersihkan, kesan angker hilang, dan menjadi tempat ziarah umat Katolik yang ramai dikunjungi, terutama bulan Mei dan Oktober.

Suasana asri sepanjang jalan salib menuju ke Gua Maria.
Sesuai dengan namanya (Tritis = tetes), gua ini tak pernah kering dari tetesan air bebatuan stalaktit, apalagi kalau musim penghujan. Alhasil lantai gua kerap basah, dan mesti dipel terus-menerus agar tak terkesan kotor. Lantai gua dilapisi oleh lembaran plastik dan karpet. Sementara tetesan air bebatuan stalaktit ditampung di bejana yang tersebar dimana-mana. Serasa berada di rumah yang bocor kala hujan :D. Namun konon katanya, air tetesan stalaktit ini berkhasiat lho.
Hanya berjarak 5 km dari Gua Maria Tritis, terhampar berbagai pantai Gunung Kidul seperti Baron, Kukup, atau Krakal. Pilihan yang cocok bagi umat Katolik yang hendak berwisata.
Aku sendiri bukan orang yang anti masuk ke tempat-tempat yang identik dengan agama selain agamaku. Yah, anggaplah ini sebagai bentuk toleransi umat beragama. Toh disana aku hanya memotret serta melihat-lihat dan tidak beribadah.
Ah sudahlah, perjalanan masih panjang. Sebab, setelah ini kami masih mampir di Pantai Sadranan untuk menikmati senja. Lha? Terus kapan pulangnya? Sekedar info, kami tiba kembali di kota Jogja pukul 02.00. Capek? Ya iya lah! :p












_ALRtb.jpg)











NIMBRUNG YUK!
Keren juga kalau dilihat dari fotonya//
Kapan-kapan mbok ajak saya kalau mampir ke Jogja..
kok terlihat sejuk alam sekitarnya :D
ya lumayan sih, sekitar 12 km, kalau anda main ke telaga namberan
lagi, sebelum namberan ada tempat keren, dengan kamera anda pasti
ciamiiik
tempat itu adl http://jarwadi.wordpress.com/2011/05/05/bukit-sodong-
pesona-paliyan/
salam