PEKOK ke Air Terjun Banyunibo

Satu hal yang sempat bikin aku penasaran (lagi) bahwa ada sebuah air terjun di wilayah Gunung Kidul. Tepatnya, berada di kec. Patuk yang selalu dan selalu kami lewati jika bersepeda di seputar wilayah Gunung Kidul. Jadi, bagaimana mungkin kami bisa melewatkan air terjun ini?
Maka dari itu di hari Rabu (16/03/2011) tim PEKOK Ranger–aku, Angga, Pakdhe Timin, Anwar, dan Yudhis–nyepeda ke air terjun Banyunibo alias curug Banyunibo alias grojogan Banyunibo…terserah bagaimana pembaca menyebut air terjun deh :D. Yang jelas ini bukan candi yang ada di Prambanan sana. :)

Pekok Ranger menjajah Gunung Kidul!
Kami berkumpul di seputar wilayah Susuh Manuk Kidul yakni di Indomaret Sorogenen di timur Jl. Solo selepas AAU. Walau Pakdhe Timin menetapkan jam berkumpul pukul 06.00, nyatanya kami baru berangkat pukul 08.00. Ah ya, lupa aku kalau ini PEKOK yang menganut paham WIP (Waktu Indonesia PEKOK) yakni jam berangkat bisa molor sesuai ke-PEKOK-an peserta, hehehe. :D
Dari titik kumpul, kami bergerak ke selatan menuju Piyungan dan dimulailah tantangan kami yang pertama; menaklukkan tanjakan bukit bintang menuju Patuk! Jujur, kami banyak berhenti ketika menanjak. Cuaca yang panas (tapi alhamdulillah biru cerah), asap knalpot truk, dan ditambah tanjakan yang jahanam benar-benar menguras stamina kami. Hingga kami sempat merindukan tanjakan ke Selo yang walaupun terjal namun adem ayem. :p

Sarapan sambil istirahat di Patuk. Nasi sayur + telur ceplok cuma Rp 5.000!
Sesuai dengan panutan petunjuk di blog yang kami baca, titik tujuan berikutnya adalah Desa Wisata Kerajinan Topeng Batik di Dusun Bobung, Kel. Putat, Kec. Patuk. Jaraknya hanya sekitar 5 km dari kota Kec. Patuk. Medan jalannya juga berupa turunan. Tak ada masalah berarti.
Masalah baru muncul ketika kami tiba di pintu masuk ke desa wisata dari Jl. Wonosari. Kami mantapkan niat sebab jalan yang kami hadapi tidak lain adalah tanjakan jahanam, hahahaha!

They said we are slow walker, but we will never walk back!
Sepanjang perjalanan menanjak, kami melewati kebun-kebun coklat. Sempat pula berhalusinasi kalau di ujung tanjakan bakal ada kafe yang menyajikan menu es coklat. Nyam! Tapi toh hal itu tak pernah ada. :(
Pada kesempatan ini pula kami bertemu dengan Oki, seorang siswa kelas 2 SD Sendangsari yang tiap hari pergi-pulang sekolah dengan berjalan kaki melahap tanjakan. Lha kami yang sudah dewasa dan nyepeda aja capek bukan main, bagaimana dengan Oki? Salut untuk Oki! Tetap bersekolah ya Oki!

Oki yang jalan kaki ke sekolah. Semangat Oki!
Kami tiba di Dusun Batur, lokasi air terjun Banyunibo berada. Warga setempat dengan ramah membantu kami menemukan jalan menuju air terjun. Jadi, kami harus mengambil arah kiri di sebuah pertigaan di suatu jalan menanjak. Fiuh… untunglah kami tak perlu melanjutkan menanjak. >.<
Kami parkir sepeda di rumah salah satu warga, berjalan kaki sekitar 300 meter, dan sampailah kami di air terjun Banyunibo. Horeee! Air terjun Banyunibo terletak di ketinggian 180m dpl, sedangkan Patuk di ketinggian 325m dpl.

Air terjun sudah dekat!
Untuk bisa mendekat ke air terjun Banyunibo, kami harus melewati berbagai bongkahan batu yang super-besar. Alhasil, mulailah kami mencari celah diantara celah batu-batu besar itu, merayap di pinggir jurang, dan bahkan memanjat batu seperti yang Pakdhe Timin dan Yudhis lakukan.
Menurut penuturan warga setempat yang tengah mencari kayu, batu-batu besar ini rubuh saat gempa bumi DIY-Jawa Tengah tahun 2006 silam. Debit air terjun Banyunibo ini bertambah seiring dengan datangnya musim hujan (juga kalau banjir, hehehe). Sayangnya, air terjun ini tidak mendukung untuk kegiatan bermain air dan mandi. :p

Alamaaaak! Masih ada rintangan batu-batu besar banget...doh!
Jadi, kalau pembaca ingin mengunjungi air terjun ini, sebaiknya sekarang saja, sebab airnya masih jernih dan belum keruh berwarna kecoklatan.
Apa cerita ini berhenti setelah kami sampai di air terjun? Tidak!
Sesuai prinsip PEKOK, bahwa rute pulang adalah hal yang tidak kalah pekok! Kami berencana untuk mampir ke Luweng Sampang di kec. Gedangsari. Jadi, kami kembali menyusuri Jl. Wonosari ke arah Wonosari dan di pertigaan Sambi Pitu kami mengambil jalan menuju Gedangsari.
Setelah perjalanan panjang tak berujung, tibalah kami di sebuah kelurahan bernama Hargomulyo yang merupakan kota kecamatan Gedang Sari. Saat itu Angga mulai merasa tidak enak dan sempat mengutarakannya padaku;
“Wij, di sini kok dikelilingi gunung ya?”
Pakdhe Timin pun menimpali, “Argo kan artinya gunung. Seperti di Cangkringan kan ada desa Argomulyo di kaki Merapi juga toh?”
Modyar! Artinya untuk lolos dari Gedang Sari kami harus menembus pegunungan yang mengelilinginya! Artinya…tanjakan lagi! Doh! >.<

Menikmati matahari terbenam setelah sekian lama melibas tanjakan.
Kami tiba di puncak pegunungan (ketinggiannya 405m dpl) dengan bersusah payah. Namun segala penderitaan kami terbalaskan dengan panorama matahari terbenam yang sangat indah. Subhanallah! Nggak heran, banyak muda-mudi desa yang melewatkan senja di puncak ini.
Dari puncak kami turun ke kec. Gantiwarno, kab. Klaten, Jawa Tengah. Selebihnya, kami tinggal mencari arah menuju Jl. Solo dan nyepeda ke arah barat menuju Jogja. Selesai! Aku tiba di rumah pukul 22.00. PEKOK kali ini memang tidak se-pekok saat mengelilingi Merapi, namun tetap saja pekok karena tujuan yang semestinya dekat bisa dibuat lama. Mungkin karena saya tak piawai mengoperasikan GPS milik Paklik Turtlix. T.T
















NIMBRUNG YUK!
banyunibo , banyumoto tu beda ya??? :D
Pemandangannya luar biasa indah ya Wi. Hebad lho...
Ya meskipun capek dan lambat, tapi bener tuh...yg penting kan gak mundur...
wah aku kui pas ngonthel nyang watu joggol mas....
Sekali2 hari minggu lah...
sama air terjunnya.
memang mantapp, :D
Ditunggu kunjungan berikutnya ya mbak. :D