Srowulan dan Pasar Perjuangan
Srowulan (atau yang juga dikenal dengan nama Sorowulan atau Srowolan) adalah sebuah desa yang terletak di Kel. Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, DI Yogyakarta. Desa ini letaknya di lereng gunung merapi. Dekat dari Jl. Palagan Tentara Pelajar km 15, dan aku baru nyadar kalau dekat pula dengan kebon salak orangtuaku. Weleh.
Aku bisa blusukan sampai di desa ini, diawali dari niat mencari rute nyepeda SPSS ke arah utara. Dari beberapa sumber di internet dan juga foto-foto, aku makin dibuat penasaran untuk berkunjung kesana. Ada apa gerangan?

Los-los Pasar Srowulan yang kini kosong, sepi dari aktivitas jual-beli kebutuhan warga.
Itu karena frase “Pasar Perjuangan” selalu melekat pada setiap sumber yang mencantumkan nama desa ini. Ya, di desa Srowulan ini memang terdapat sebuah pasar. Lebih tepatnya los-los pasar. Sebab, kini pasar tersebut sudah tidak aktif lagi.
Dari beberapa literatur sejarah yang kubaca, pasar erat kaitannya dengan munculnya suatu pemukiman dan bahkan peradaban. Begitu pula dengan Pasar Srowulan ini. Pasar ini dibangun pada tahun 1921 sebagai Pasar Kesultanan. Artinya, pasar ini berada dibawah administrasi Keraton Kesultanan Ngayogyakarta, serupa dengan Pasar Ngasem. Kini, dua pasar tersebut hanya tinggal sejarah saja.

Nama Sorowulan berasal dari nama seorang empu wesi, Empu Aji Sorowulan, yang pernah hidup disana.
Pasar Srowulan dipergunakan juga sebagai tempat berkumpulnya pejuang Jogja saat Agresi Militer Belanda ke-2. Selain itu, Pak Sayuti Melik, sang juru ketik naskah proklamasi pernah menghabiskan masa kecilnya di desa ini.
Dekat dengan Pasar Srowulan ada sebuah rumah Joglo yang merupakan bekas Kemantren (kantor mantri), cikal-bakal Kecamatan Pakem. Sulit untuk membayangkan, berpuluh tahun yang lalu, sebuah pasar dan kantor kecamatan berada diantara rimbunnya pohon-pohon salak. Sulit dipercaya, tapi memang benar. Beberapa bangunan tua peninggalan Belanda seperti gereja dan gudang, masih berdiri utuh disekitar Kemantren tersebut.

Rumah Joglo ini dahulunya bekas kantor mantri, cikal-bakal Kecamatan Pakem.
Kini, Desa Srowulan telah disulap menjadi desa wisata budaya. Upacara Merti Desa yang terakhir kali dilangsukan pada tahun 1959 kini diaktifkan kembali. Pada tahun 2008, Sri Sultan Hamengkubuwono X meresmikan panggung budaya di desa Srowulan. Di desa ini juga terdapat rumah makan dan sarana outbond keluarga bernama Banyu Sumilir.

Peta desa yang informatif di muka desa. Tersedia juga kantor informasi bagi pengunjung.
Desa Srowulan kini menjelma menjadi desa wisata, tapi tetap mempertahankan kisah sejarahnya. Jadi, pembaca pernah berkunjung ke desa wisata?























NIMBRUNG YUK!
jauh............
Artikel candinya kapan ?
Lagi libur ya............. ?
makasih udah sharing 0_0
aku taunya ugm mas
di makam dusun) serta Situs Potro Purwobinangun Pakem (Jaladwara di
pemandian dusun)
dari ngepas jalan kaki sama mbah putri kepasar srowolan.
pulangnya dibeliin gudangan .
trims