Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Sabtu, 5 April 2008, 18:58 WIB

Kamis (20/12/2007), awal liburan akhir tahunku bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Idul Adha bagi sebagian orang identik dengan penyembelihan hewan kurban. Untuk Idul Adha tahun ini aku sengaja tidak menyaksikan penyembelihan hewan kurban yang lokasinya persis di depan rumahku. Sebabnya, ada momen lain selain penyembelihan hewan kurban yang sudah lama aku nanti-nantikan. Momen pertama di bulan Desember 2007 di mana aku harus membangunkan DSLR yang tertidur lama di dalam drybox.

 

Salah satu prosesi budaya yang digelar oleh Keraton Yogyakarta saat Idul Adha adalah Grebeg Besar. Untuk Pembaca yang belum tahu, prosesi grebeg adalah persembahan hasil bumi dari Keraton untuk rakyat Yogyakarta. Hasil bumi tersebut disusun sedemikian rupa pada suatu wadah sehingga membentuk gunungan. Prosesi grebeg ini sendiri dilaksanakan tiga kali yaitu saat Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi. Prosesi Grebeg yang dilangsungkan pada hari Idul Adha disebut Grebeg Besar.

 

Inilah rangkaian acara prosesi Grebeg Besar. Pertama-tama adalah prosesi baris-berbaris para prajurit Keraton Yogyakarta. Kemudian gunungan hasil bumi diarak dari Pagelaran Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman. Di Masjid Gedhe Kauman, setelah gunungan selesai didoakan para warga Yogyakarta diperbolehkan untuk mengambil isi gunungan tersebut.

 

Warga Yogyakarta percaya bahwa sesuatu yang diberikan oleh Keraton membawa berkah bagi mereka. Karena itu tidak heran bila para warga acap kali berebutan untuk bisa membawa pulang isi gunungan. Terlepas dari kepercayaan ngalap berkah tersebut, Grebeg Besar adalah tradisi yang sarat dengan nilai-nilai luhur yang patut untuk dilestarikan.

 

Foto prosesi Grebeg Besar Yogyakarta 2007

 

Tradisi bagi fotografer adalah obyek yang selalu menarik untuk diabadikan. Pihak Keraton mengumumkan bahwa prosesi dimulai pukul 9 pagi. Namun pada kenyataannya prosesi Grebeg Besar baru dimulai pada pukul 10 siang. Beruntung cuaca hari itu cerah dan tidak hujan. Sayang, bila prosesi dimulai tepat waktu pada pukul 9 pagi pemandangan langit biru masih dapat terabadikan.

 

Selama kurang lebih 1 jam menunggu, aku melihat banyak sekali fotografer lokal dan asing berada di sekitar Pagelaran Keraton. Dari camera strap yang digunakan terlihat fotografer yang hadir kebanyakan menggunakan DSLR Nikon.

 

Foto prosesi Grebeg Besar Yogyakarta 2007

 

Foto prosesi Grebeg Besar Yogyakarta 2007

 

Foto prosesi Grebeg Besar Yogyakarta 2007

 

Beberapa spot menarik pada Grebeg Besar adalah:

 

Prosesi Baris-Berbaris para Prajurit Keraton Yogyakarta

Prajurit Keraton sangat jarang muncul di depan publik. Sehingga momen seperti Grebeg Besar menjadi momen yang langka untuk mengabadikan para prajurit. Lokasi yang terbaik adalah di alun-alun utara ketika mereka tengah berbaris menanti gunungan untuk diarak. Kita bisa merekam ekspresi para prajurit ketika tengah menunggu, seperti bersendau-gurau dan bercakap-cakap dengan warga.

 

Ketika Isi Gunungan Diperebutkan Oleh Warga

Banyak fotografer yang sampai memanjat pagar masjid untuk bisa mendapatkan sudut pandang yang luas. Namun yang terpenting adalah ketika mengabadikan ekspresi warga yang bersuka-cita mendapatkan isi gunungan. Dari sudut pandang seorang fotografer kita bisa melihat emosi warga yang kadang egois untuk membagi isi gunungan yang mereka peroleh kepada mereka yang tidak mendapatkannya.

 

Mengabadikan prosesi seperti ini adalah latihan yang sangat bagus untuk meningkatkan kesigapan memotret. Karena obyek yang tidak statis mengakibatkan kita harus secepat mungkin menentukan focal length, titik fokus, bukaan diafragma, sampai komposisi foto.

 

Foto prosesi Grebeg Besar Yogyakarta 2007

 

Terus terang kesigapanku memfoto belum maksimal karena aku cenderung memfoto obyek statis seperti portrait. Tidak ada yang salah pada perlengkapan foto yang aku bawa. Hanya saja memang aku belum terbiasa untuk sigap memfoto.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!