Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Kamis, 3 Desember 2009, 09:15 WIB

Yogyakarta seakan nggak memberi kesempatan bagi penikmat budaya untuk sekadar menarik napas. Hampir di setiap bulan, kita bisa menjumpai hajat kirab budaya digelar di berbagai wilayah provinsi DI Yogyakarta. Situasi di tahun 2009 ini sangat jauh berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun silam yang minim perayaan. Bisa jadi, Yogyakarta ingin kembali memantapkan diri sebagai provinsi yang kental identitas budayanya.

 

Hajat budaya itu kini terfokus untuk mengangkat seluruh potensi budaya yang ada di wilayah Yogyakarta. Kita tahu, potensi budaya itu tersebar di setiap kabupaten; Kulon Progo, Sleman, Bantul, dan Gunungkidul; juga kotamadya Yogyakarta sendiri.

 

Nah, kenapa tidak mengemas suatu acara yang menampilkan seluruh potensi budaya itu?

 

Cara unik itulah yang kemudian dipilih pemerintah provinsi DI Yogyakarta untuk mengangkat potensi budayanya.

 

Penari ISI saat Festival Upacara Adat Yogyakarta pada November 2009
Para penari dari ISI Yogyakarta membuka Festival Upacara Adat dengan koreografi mereka.

 

Satu Kemasan, Isi Beraneka Ragam

Pada hari Minggu (29/11/2009), digelar acara Festival Upacara Adat di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. Acara ini menampilkan 10 upacara adat yang dibawakan oleh 13 kelompok. Setiap kelompok memperagakan upacara adat yang "hampir mirip" dengan aslinya.

 

Eh, kenapa di atas aku sebut hampir mirip? Itu karena rentang waktu yang disediakan panitia untuk setiap kelompok terbatas, yakni hanya 4 menit saja. Selain itu, nggak semua sarana pendukung upacara adat turut dibawa serta.

 

Foto-foto Festival Upacara Adat bisa disimak di akun Flickr-ku ini.

 

Seakan nggak mau kalah, hanya berselang 3 hari dari pelaksaan Festival Upacara Adat, pemerintah kabupaten Sleman menggelar Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi pada hari Rabu (2/11/2009). Acara ini memang bukan yang pertama kali digelar oleh pemerintah kabupaten Sleman. Akan tetapi, acara tahun ini terlihat lebih meriah. Sebabnya, hampir semua potensi budaya dan pelaku usaha yang ada di kabupaten Sleman turut ambil peran. Mereka melakukan kirab budaya sejauh 3 kilometer dari Lapangan Mlati hingga Lapangan Denggung, Sleman.

 

Foto-foto Karnaval Pelang Budaya Bumi Merapi bisa disimak di akun Flickr-ku ini.

 

Penari bertopeng cantik di Festival Upacara Adat Yogyakarta, November 2009
Dibalik topeng ini tersimpan paras ayu. Jarang ada peserta kirab dengan warna "meriah" seperti ini.

 

Tujuan Kirab Budaya

Menilik sambutan Kepala Dinas Pariwisata DI Yogyakarta, acara kirab budaya ini memiliki beberapa tujuan:

  1. Mengangkat kearifan lokal dari setiap kabupaten dan kotamadya di DI Yogyakarta.
  2. Meningkatkan apreasiasi warga kepada pelaku seni dan budaya.
  3. Melestarikan warisan budaya yang telah lama menjadi bagian dari DI Yogyakarta.
  4. Menjadi atraksi budaya yang menambah semarak perhelatan budaya di DI Yogyakarta.
  5. Meningkatkan kualitas SDM para pelaku seni dan budaya.
  6. Memberi kontribusi dan peran pada pelaku seni dan budaya.
  7. Menjadi salah satu unggulan potensi pariwisata budaya di DI Yogyakarta.

 

Degenerasi dan Faktor Klenik

Kita nggak bisa mengelak dari kenyataan, bahwa saat ini banyak generasi muda yang lupa akan budayanya sendiri. Apa sebabnya, itu sudah aku paparkan di artikel Budaya Kita atau Kamu (terima kasih sekali lagi untuk para Pembaca ).

 

Memang kalau diperhatikan hampir setiap kirab budaya atupun upacara adat selalu dilatarbelakangi oleh faktor kepercayaan. Apakah itu bagian dari mistis atau klenik, silakan Pembaca yang menanggapi. Tapi jangan memandang menggunakan kacamata agama saja, karena ada banyak pelajaran lain yang bisa dipetik. Tentang sejarah dan toleransi misalnya.

 

Mengantri Air Enceh di Festival Upacara Adat, November 2009
Banyak warga yang masih mempercayai khasiat dari Air Enceh yang berasal dari gentong di Pajimatan Imogiri.

 

Latihan dan Latihan

Buatku, kirab budaya ini adalah hunting ground, tempat berburu. Apalagi kalau bukan berburu foto-foto. Yah, bisa dimaklumi lah sebagai peminat fotografi yang belajar secara otodidak, aku kan butuh sarana latihan. Kirab budaya ini terasa lain karena obyek foto, yaitu para pelaku budaya, senantiasa beratraksi sehingga perlu kejelian dan kreativitas ekstra untuk menangkap momen unik. Ini menarik dan aku sedang belajar menguasainya.

 

Jadi kapan Pembaca ada di Jogja lagi dan sama-sama nonton atau motret kirab budaya?


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • ZAM
    avatar 1857
    ZAM #Jum'at, 4 Des 2009, 01:35 WIB
    Solo tahun 2010 punya banyak agenda acara. silakan diliput, jangan Jogja mulu.. :D

    sayang aku ndak bia kelayapan ke Solo.. :D
    lha aku wong Jogja je. Tapi kalau ada informasi yang jelas, bolehlah sesekali numpang Prameks buat bikin liputan di Solo. hehehe
  • PEIN
    avatar 1858
    PEIN #Sabtu, 5 Des 2009, 13:23 WIB
    Acaranya bagus2, klenik pa haram urusan belakangan...

    Yang penting masyarakat dapat hiburan dapat pengetahuan tentang budayanya...

    Hmmm
    Ah, andaikata ada banyak masyarakat muda yang menaruh perhatian pada budaya seperti ini.
  • SUWUNG
    avatar 1859
    SUWUNG #Sabtu, 5 Des 2009, 16:39 WIB
    sampean luwih njawani timbang aku mas
    mosok? saya tetep ndak bisa bahasa Krama Inggil je...
  • EM
    avatar 1862
    EM #Minggu, 6 Des 2009, 09:14 WIB
    He5, njuk neng solo tho Wij, kudu mampir kuwi ke rumahè mb H :D
    wah ini mesti diperjelas :D
  • RIFKY
    avatar 3846
    RIFKY #Jum'at, 6 Mei 2011, 23:00 WIB
    foto-foto mengenai kirab budaya tolong ditambah lagi ya ???
    kalau ada pentas lagi ya Bro!