Maw Mblusuk?
  • RSS 2.0
  • Facebook
  • Twitter
  • Flickr
  • Instagram
  • Youtube
  • E-Mail

Diterbitkan

Minggu, 29 November 2009, 11:18 WIB29 Nov 2009, 11:18 WIB

Dilihat

14638 kali

20 Komentar

[kotak komentar]

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk

Cari Artikel

PARA PENJELAJAH

Menuju Jauholeh: Agita Violy

blog perjalanan Menuju Jauh oleh Agita Violy

INSTAGRAM @MBLUSUK

https://instagram.com/p/1KlMWZyiyG/

WEJANGAN

Hidup indah bila tak ada cinta yang menghiasi jagad raya, BOHONG Hidup indah bila tak ada cinta yang menyelimuti hati kita, BOHONG


oleh: Sigit Nugroho

dipersembahkan oleh:

Mblusuk Sosrowijayan Kulon

Mblusuk itu nggak mengenal batasan tempat. Selama masih ada orang yang pernah kesana, mblusuk tak mustahil. Mblusuk memang bukan hanya perkara tempat. Ada faktor lain yang lebih penting, yaitu niat dan keteguhan hati. Dengan itu kita akan tetap melangkah maju menghadapi segala rintangan.

 

Malam itu (12/11/2009), bila jam berdentang, mungkin baru akan berhenti setelah dua belas kali. Tapi disana memang tak ada jam. Walau jamnya berdentang pun pasti tak terdengar. Sebab disana penuh dengan riuh-ricuh manusia.

 

Budi (bukan nama sebenarnya) adalah pemandu kami malam hari itu. Atas bujuk dan rayunya, kami menuruti keinginan sang kawan yang hendak hengkang dari kota pelajar ini. Yah, Budi hanya ingin menikmati saat-saat terakhirnya. Saat-saat dimana ia melepas canda-tawa bersama kami. Saat-saat dimana kami harus melepasnya untuk pergi.

 

Bila beda waktu dan beda lokasi, mungkin tur malam kali itu tak ubahnya dengan tur lain. Hanya keliling kampung kok. Hanya sebuah kampung bernama Sosrowijayan Kulon yang letaknya di pusat kota Jogja. Hanya sebuah kampung yang kerap disandi dengan nama Sarkem.

 

gerbang masuk Sosrowijayan Kulon
Gerbang Masuk Sosrowijayan Kulon

 

Ini pertama kalinya aku mblusuk ke lokasi prostitusi. Aku tak berpikir tindakanku ini salah. Aku hanya ingin tahu ada apa di dalam sana. Mungkin warga Jogja pun ada yang belum pernah bertandang kesana. Aku tak mau menjustifikasi sesuatu hanya dari namanya. Aku ingin tahu dalamnya. Tentu, aku juga ingin keluar dari sana hidup-hidup.

 

Suasana di kampung Sosrowijayan Kulon ramai. Penuh dengan manusia-manusia yang mungkin anda menyebutnya laknat. Pria mesum, hidung belang, tante girang, kupu-kupu malam, ayam kampung, apapun itu. Sosrowijayan Kulon adalah labirin. Berbagai gang disana akan mengantarmu menemui sarang manusia-manusia itu. Untung kami tak pernah nyasar, sebab ada Budi sebagai penunjuk jalan.

 

Jogja, kota pelajar ini ibarat kertas putih. Kau ambil sejumput tinta dan kau percikkan diatasnya. Di noda hitam diantara belantara putih itulah kau berada. Jujur, aku tak habis pikir mengapa bisa ada tempat seperti ini. Lebih kaget, ketika tahu bahwa lokasi ini legal dan sudah ada semenjak penjajahan Belanda. Apa prostitusi itu budaya?

 

Tur usai selepas 15 menit (terasa bagai satu jam). Budi menawarkan pindah ke noda hitam lain. Aku menolak dan bergegas pulang ke rumah.

 

Mblusuk itu perkara niat dan keteguhan hati. Lima belas menit itu sukses membuat hatiku bimbang. Bimbang mengenai arti dari kenikmatan seorang wanita. Toh, sebagai pria aku akui mata pria akan selalu tertancap pada wanita berbusana seronok. Namun menyaksikan mereka yang berpenampilan serupa, kenapa aku malah menjadi jijik?

 

Aku tak sanggup melanjutkan ini lagi. Pembaca apa pernah mengunjungi lokasi prostitusi?

 

Foto...
Aku memang bawa DSLR tapi aku tak memotret disana. Toh, manusia disana serupa dengan mereka yang memakai celana hotpants, menghisap rokok, dan minum alkohol, bisa anda temui mereka dimana saja kan?

NIMBRUNG YUK


UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!