Jogja yang Bikin Betah

-
Jogja punya pemandangan yang menakjubkan! Kalau bangun pagi sekitar jam 06.00 pas mau ke pasar atau beli koran, sering terlihat jelas Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di utara kota Jogja. Selain itu kalau sedang main ke daerah Kaliurang, Cangkringan, atau Pakem aku selalu terpana melihat kemegahan dua gunung tersebut. Biasanya aku jarang menyebutkan lafadz Allah tapi untuk karya-Nya yang satu ini, hati dan lisaku selalu mengucapkan Subhanallah.
-
Jogja masih kental dengan unsur budaya, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Karena aku orang Jawa dan sejak kecil hanya sedikit tahu tentang budaya Jawa, maka semenjak aku kuliah di Jogja ini aku berusaha memperdalam pengetahuanku akan budaya Jawa. Yah, bisalah aku sekarang berbicara Jawa krama walau terpatah-patah. Atmosfir budaya Jawa itu juga yang selalu mengingatkanku bahwa hidup itu semata-mata tidak mencari uang tapi berbakti kepada orang lain. Untuk yang satu ini aku salut kepada pengabdian para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.
-
Sebagai orang yang hobi motret, setiap saat di Jogja selalu ada aja acara yang bisa dijadikan obyek foto. Acara-acara itu kebanyakan juga merupakan prosesi kebudayaan, seperti kirab budaya dan Grebeg.
-
Sebagai orang yang hobi jalan-jalan alias blusukan, dimana lagi bisa pindah provinsi dalam hitungan kurang dari 1 jam kalau bukan di Jogja? Jalan terus ke Barat sampai Magelang, kalau jalan terus ke Timur sampai Solo. Selain itu Jogja juga kaya akan obyek pariwisata, mulai dari gunung, pantai, sampai candi. Boleh juga lho buat obyek foto.
-
Di Jogja aku punya tempat ”pelarian” jika sewaktu-waktu aku suntuk dan butuh sejenak menghirup udara bebas. Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta, Kaliadem, dan Watu Leter merupakan beberapa diantaranya. Cukup setengah jam berada disana, pikiran jadi plong lagi.
-
Tetapi yang pasti, walau aku menghabiskan 18 tahun hidup di Jakarta tapi 4 tahun di Jogja telah mendewasakanku. Bukan aku mengalami perubahan fisik, akan tetapi aku jadi tahu dan bisa apa-apa sendiri. Bisa naik bis sendiri, naik kereta sendiri, bayar-bayar biaya administrasi sendiri, ngurus ini, ngurus itu, dan lain sebagainya. Mungkin itu efek-sampingnya hidup sendiri, jauh dari orangtua. Tapi aku nggak sendiri, karena di Jogja ini aku punya banyak teman, macem-macem deh pokoknya. Jadi, rasanya menyenangkan sekali menghabiskan waktu di kota ini.













NIMBRUNG YUK!
Jadi inget sama salah satu lirik lagu jadul yg begini nie:
Awalnya biasa saja...
Kita saling bercanda...
du du du du...
emang deh... never ending asia
andai jogja punya taman kota pasti lebih sempurna...
alasanku juga Wij... Jogja memang terlalu istimewa untuk dilewatkan
begitu saja... :)