Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Tour de Bali: Hari Kedua @ Tirta Empul

Candi Mantup

Selain Jl. Jogja-Solo yang menghubungkan banyak lokasi candi, ternyata ada lagi jalan di Yogyakarta yang berkarakteristik sama dengan Jl. Jogja-Solo. Jalan tersebut adalah jalan yang menghubungkan kota Jogja dengan kota Wonosari dan lebih populer dengan nama Jl. Jogja-Wonosari. Cara termudah untuk mencapai Jl. Jogja-Wonosari dari rumahku adalah sebagai berikut. Di Jl. Jogja-Solo tepatnya di pertigaan Janti, berbeloklah ke arah kanan untuk menuju ringroad timur. Di ringroad timur pada perempatan yang pertama (bukan perempatan besar setelah menuruni jembatan layang) berbeloklah ke arah kiri. Nah, sampai deh di Jl. Jogja-Wonosari.


Lokasi candi yang dikelilingi oleh persawahan.


Candi yang terbuat dari batu bata berlumut.


Terdapat semacam rongga untuk sambungan.
Entah apa fungsinya.



Batu-batu andesit yang kami duga
sebagai bagian lain dari candi.






Kalau terus menelusuri jalan ini, kita bakal sampai di Wonosari, sebuah kota Kabupaten Gunung Kidul. Tapi tenang, karena penjelajahan yang aku dan Andreas lakukan pada hari Kamis (19/02/2008) itu tidak perlu jauh-jauh hingga ke Wonosari. Di Jl. Jogja Wonosari Km 7, di arah utara jalan (di sisi kiri jalan kalau dari arah Jogja) ada sebuah gapura berwarna biru yang bertuliskan Dusun Mantup. Tidak jauh dari gapura itu ada juga plakat dari cor-coran semen berwarna merah muda yang bertuliskan Dusun Mantup, Desa Baturetno, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Yogyakarta. Ikuti saja jalan masuk ke gapura biru tersebut dan sekitar 200 meter di sisi kiri jalan bakal ada sebuah pemakaman umum bernama Segara Madu. Nah, di pemakaman itu silakan parkir kendaraan anda dan jangan bingung kalau kanan-kiri isinya sawah semua. Tidak jauh dari pemakaman tersebut, di arah barat laut ada sebuah papan putih berdiri tegak. Disanalah Candi Mantup berada.

Aku kurang mengerti kenapa untuk reruntuhan bangunan arkeologi, ada yang menyebut situs dan ada pula yang menyebut candi. Bagi yang pertama kali kemari dan membayangkan bahwa Candi Mantup adalah benar-benar candi pada umumnya pasti akan terperangah melihat bentuk dari Candi Mantup. Seperti yang ada pada gambar diatas artikel ini, candi ini terdiri dari tiga buah bangunan berukuran kira-kira 2x2 meter. Kalau dicermati ketiga bangunan ini memiliki semacam bilik didalamnya dan ada jalan masuk kecil ke dalam bilik tersebut yang menghadap ke arah barat. Menurut sumber di internet, pada bangunan candi yang tengah ditemukan arca yang diidentifikasikan sebagai Kalyanasundaramurti, menggambarkan laki-laki dan perempuan dalam posisi berdampinngan dan bergandengan tangan. Diduga merupakan penggambaran perkawinan Dewa Siwa dan Parvati. Karenanya diduga candi ini merupakan candi Hindu dan diperkirakan dibangun pada abad ke-8 sampai 9 Masehi.

Kami pun sempat melakukan sedikit observasi di si situs kecil ini. Dari tiga buah bangunan tersebut, hanya bangunan yang terletak di sisi paling utara yang terbuat dari batu bata. Ironisnya ketiga bangunan itu dipenuhi lumut. Tidak jauh dari jalan masuk ke candi tersebut, kami menemukan batu-batu andesit berukuran besar yang kami duga sebagai batu candi. Sebagian besar permukaan batu-batu itu masih terkubur di dalam tanah. Karena tidak ada penjaga situs yang bisa kami tanyai, kami menyimpulkan bahwa candi ditemukan secara tidak sengaja oleh petani setempat ketika mencangkul sawah. Tidak hanya Candi Mantup saja, karena di Jl. Jogja-Wonosari Km 12 ternyata juga terhubung ke lokasi purbakala lain. Nantikan terus artikel berikutnya ya.

NIMBRUNG YUK!

  • PEIN
    avatar 206
    #Jum'at, 20-Februari-2009, 19:01 WIB
    Oalah, mas...mas..., masih ada yang lebih ngenes lagi dari Candi Mantup ini, kayak di Situs Marangan [ http://www.disbudpar-diy.go.id/dktb/result_view.php?oid=435&tipe=tidakbergerak ] Btw, oke juga nih artikelnya walau terlalu singkat [ ga pa-pa lah ] artikel lanjutannya kapan nich ? [ da schedulnya ga nich ? ]
    Di Klaten, Jawa Tengah juga ada candi (namanya Candi Kalongan) yang batunya habis dipakai buat pagar rumah warga. Bener-bener bangsa kita ni ndak menghargai sejarahnya banget. Ya, makanya tonton terus ni blog, he3.
  • PEIN
    avatar 207
    #Jum'at, 20-Februari-2009, 19:20 WIB
    Yup, emang betul, kayak kasus di Trowulan yang kebanyakan benda peninggalan bersejarahnya ga terurus [ lha wong mau gimana lagi, kalo diurus semua, ntar Trowulan bakal benar - benar tergusur akibat saking banyaknya benda purbakala ]. Mas, Candi Kalongan-nya dibahas juga dunk, walau cuma sisa - sisanya; siiiplah............
    heee...cepat sekali kau balas komenku? Kalo desa Trowulan diubah jadi desa masa lampau gitu apa ga mungkin ya? Kayaknya Candi Kalongan udah pernah kusinggung dikit di artikel Candi Sojiwan deh. BTW, aku ga tau mesti cari info kemana, lagipula yg punya rumah anjingnya galak banget.
  • PEIN
    avatar 208
    #Jum'at, 20-Februari-2009, 19:39 WIB
    okelah, kutunggu perkembangan selanjutnya [ YM-nya ada ndak ]..........
    ada lah, liat aja di halaman profile
  • #Sabtu, 09-Januari-2010, 22:01 WIB
    yah...sperti itulah kondisi kita....jika ndak ada nilai komersilnya ngapain untuk dipikirkan...padahal itu adalh aset yang tak ternilai tinggal cara mengolahnya saja.......
    Setidaknya dirawat, misal ada juru kunci yang berjaga disana...
  • GOCAW
    avatar 2355
    #Minggu, 07-Maret-2010, 17:29 WIB
    huy, rumah ku dkt candi mantup lho, candi mantup ntu yg nemuin emang petani yg ga sengaja dpt ntu batu,,
    tapi heran y kuck ga d terusin ya?? kalu k situ lg, mampir yaw,,
    hohoho, rumahmu di daerah Piyungan toh? :)
  • GOCAW
    avatar 2386
    #Kamis, 11-Maret-2010, 13:43 WIB
    dari candi da masjid kan??
    lurus dikit nyampe ko,, ga nyampe piyungan ko,,,
    hoolha...disitu tow
  • #Senin, 15-Agustus-2011, 14:36 WIB
    warisan budaya lagi,
    berlumut...:)
    Matur nuwun mbak e :)