Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Senin, 11 Februari 2008, 02:44 WIB

Siapa sih orang Jogja yang nggak kenal kuliner bernama Bakmi Jawa?

 

 

Sebutan Bakmi Jawa umumnya dipakai oleh orang-orang yang berasal dari luar Jogja. Sedangkan orang Jogja sendiri umumnya menyebut kuliner ini dengan nama singkatnya yaitu bakmi atau mie. Barulah ketika ada yang bertanya lebih rinci, nama bakmi jowo meluncur sebagai jawaban.

 

Bagi beberapa orang, penyebutan Bakmi Jawa secara spesifik sesuai cara dimasaknya juga lumrah dipakai. Mereka menyebut mie godhog untuk bakmi rebus dan mie goreng untuk bakmi goreng. Ada juga sebutan magelangan untuk kuliner campuran bakmi goreng dan nasi goreng.

 

 

Di Jogja, popularitas Bakmi Jawa bisa disejajarkan dengan gudeg. Bedanya, kalau penjual gudeg beroperasi pada pagi hari, maka penjual Bakmi Jawa beroperasi pada malam hari.

 

Selepas magrib biasanya, penjual Bakmi Jawa sudah mangkal di tempat-tempat dekat keramaian. Misalnya di pinggir jalan besar atau di sekitar pasar. Ada juga penjual Bakmi Jawa yang berkeliling menggunakan gerobak di kawasan pemukiman.

 

foto penjual bakmi jawa memakai gerobak di pinggir jalan kota jogja pada zaman dulu sekitar tahun 2008

 

Dari racikan, bumbu, serta rasa, bisa jadi antara Bakmi Jawa yang satu dengan Bakmi Jawa yang lain itu berbeda-beda. Meskipun demikian, dari sekian banyak kemungkinan perbedaan tersebut bahan yang nggak pernah absen digunakan adalah mie!

 

Ya iyalah! Namanya juga bakmi!

 

 

Umumnya, mie yang digunakan pada Bakmi Jawa (baik itu bakmi rebus atau bakmi goreng) merupakan campuran dari mie kuning dan bihun. Biasanya, penjual akan bertanya, "mienya campur?" untuk memastikan ke pembeli mengenai "golongan" mie yang dipesannya.

 

Apakah mienya Bakmi Jawa dicampur ataukah mie kuning saja ataukah bihun saja, umumnya sih harganya tetap sama.

 

 

Selain mie, bahan-bahan lain yang digunakan pada Bakmi Jawa nyaris seragam. Misalnya kubis, loncang (daun bawang), suwiran ayam kampung, telur (ayam atau bebek), kaldu ayam, dan bumbu halus. Umumnya, penyajian Bakmi Jawa disertai pelengkap berupa acar timun dan cabai rawit.

 

Oh iya, kalau pembeli memesan Bakmi Jawa versi pedas, maka penjual bakal merajang sejumlah cabai rawit untuk dicampurkan ketika memasak pesanan bakmi.

 

foto tampilan sajian bakmi jawa jogja zaman dulu masih seharga 5000 rupiah

 

Orisinalitas merupakan hal yang kukagumi dari para penjual Bakmi Jawa. Menurutku, orisinalitas Bakmi Jawa boleh dibilang merupakan suatu prinsip hidup.

 

Bayangkan saja, demi menjunjung tinggi citarasa, para penjual Bakmi Jawa lebih memilih memasak menggunakan tungku anglo dengan bahan bakar arang! Katanya, panas untuk mematangkan bakmi lebih pas dibanding jika memakai tungku gas.

 

 

Selain itu, demi juga menjaga citarasa, para penjual Bakmi Jawa memasak setiap porsinya satu per satu! Itulah yang menyebabkan kenapa kebanyakan penjual Bakmi Jawa umumnya hanya memiliki satu perangkat masak.

 

Aku mencermati, untuk memasak satu porsi Bakmi Jawa umumnya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit. Bila ada enam pembeli yang menunggu pesanan Bakmi Jawa, itu berarti pembeli ketujuh yang datang harus menunggu sekitar satu jam! WOW!

 

 

Bisa dibayangkan apabila penjual Bakmi Jawa sudah tersohor. Amatlah lazim bilamana ada belasan hingga puluhan pesanan dalam satu waktu. Alhasil, para pelanggan yang ingin menikmati Bakmi Jawa harus sabar menunggu selama berjam-jam. #modal.sabar

 

Orisinalitas Bakmi Jawa itulah yang membuat orang-orang dari kota besar geleng-geleng kepala. Kondisi yang memungkinkan untuk meraup keuntungan dengan memodernisasi peralatan dan kapasitas masak. Akan tetapi tidak digubris demi dedikasi menyajikan citarasa kuliner yang berkualitas.

 

foto suasana warung bakmi jawa di pinggiran desa jogja pada zaman dulu sekitar tahun 2008

 

Rasa memang mengalahkan segala-galanya. Maka dari itu, tidak sia-sialah usaha sabar menunggu demi mengecap gurihnya kuah bakmi. Bisa jadi, akibat kesabaran (dari menahan lapar) itulah pesanan Bakmi Jawa yang ditunggu selama berjam-jam terasa sangat-sangat nikmat.

 

Tidak habis pikir memang, dan menurut pengakuan sejumlah penjual Bakmi Jawa yang secara garis besar “tidak ingin meraup untung, hanya sekadar untuk ikut makan saja” kadang membuat Bakmi Jawa kian menjadi makanan yang tak logis disantap.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!